IDEA JATIM, MALANG – Senin pagi (30/3). Gerbang SD Insan Amanah sudah ramai. Guru-guru berdiri tegak. Senyum mereka lebar. Menyambut siswa yang kembali usai libur Idul Fitri.
Suasananya beda. Bukan langsung buka buku. Bukan langsung kerjakan soal. Tapi bersalaman. Bermusafahah.
Ada yang unik tahun ini. Namanya: Toples Berjalan.
Mekanismenya sederhana. Anak-anak duduk melingkar. Sebuah toples berisi kue Lebaran diedarkan. Sambil bernyanyi. Begitu lagu berhenti, di mana toples itu hinggap, di situ cerita dimulai.
Siswa yang memegang toples harus berkisah. Tentang mudik. Tentang sungkeman. Tentang opor ayam. Atau tentang isi amplop Lebaran yang mulai menipis. Setelah bercerita, mereka makan kue bersama-sama.
”Kami ingin momen Lebaran ini tetap hangat di sekolah,” ujar Bu Ayu, Waka Humas SD Insan Amanah.
Bu Ayu menjelaskan, Toples Berjalan bukan sekadar seru-seruan. Ada misi di baliknya. Melatih keberanian bicara. Melatih empati mendengarkan. Anak-anak diajak berbagi rasa.
Tidak berhenti di situ. Ada juga Open Class. Siswa “bertamu” ke kelas lain. Masih dalam satu rumpun. Tujuannya satu: menyambung silaturahmi yang mungkin sempat terputus karena libur panjang.
Ada satu sesi yang cukup kontemplatif. Namanya Resolusi Pasca Lebaran. Siswa tidak hanya diminta bercerita masa lalu. Mereka harus menatap masa depan.
Setiap siswa menulis. Apa kebiasaan baik selama Ramadan yang mau dijaga? Sholat tepat waktu? Rajin mengaji? Atau membantu orang tua?
”Target kami, nilai Ramadan jangan hilang ditelan libur,” tambah Bu Ayu.
Hari pertama ini memang singkat. Kelas 1-3 pulang pukul 11.00. Kelas 4-6 pulang pukul 12.00. Tapi maknanya dalam.
Sekolah bukan sekadar gedung beton.
Bukan sekadar tempat mengejar angka di rapor. Di SD Insan Amanah, sekolah adalah tempat merawat tradisi. Tempat menyemai kebaikan.
Sederhana. Tapi penuh makna. (*)



