IDEA JATIM, MALANG – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas mahasiswa, sebuah oase refleksi muncul di Tumbu Space. UKM Sanggar Minat Universitas Negeri Malang (SAMIN UM) sukses menyelenggarakan pameran seni bertajuk “Talang Kabut” yang berlangsung selama sepekan, mulai Kamis hingga Rabu (5–11/2).
Bukan sekadar pajangan visual, pameran ini hadir sebagai “ruang bernapas” bagi sembilan pengkarya untuk mengekspresikan diri tanpa sekat tekanan.
Secara garis besar, “Talang Kabut” memotret realita perjalanan manusia yang sering kali terjebak dalam fase abu-abu. Ketua Pelaksana, Duta Arya, mengungkapkan bahwa konsep ini lahir dari kegelisahan kolektif tentang masa depan yang buram.
“Konsep utamanya adalah pintu darurat. Talang Kabut memaknai bahwa manusia akan terus mengalir dalam keadaan apa pun, meski kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di balik kabut tersebut,” jelas mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris UM ini.
Salah satu sudut yang mencuri perhatian adalah karya berjudul Liminal milik Melita Khairina Gunawan. Melalui karyanya, mahasiswi Ilmu Perpustakaan UM ini memvisualisasikan kondisi seseorang yang berada di persimpangan jalan—antara bertahan atau menyerah.
Bagi Melita, “pintu darurat” tidak selalu berupa keputusan besar. Hal-hal sederhana sering kali menjadi penyelamat saat seseorang mengalami burnout.
“Pintu darurat dalam karya saya adalah hal-hal kecil seperti kucing, hobi, alam, dan komunitas di UKM Sanggar Minat. Hal-hal ini sering luput dari kesadaran kita, padahal mereka adalah pelarian sekaligus penyelamat,” ungkapnya.
Meski proses kreatif dilakukan secara spontan di tengah keterbatasan waktu, energi yang disalurkan para pengkarya tetap terasa kuat. SAMIN UM berharap pengunjung tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi juga pulang dengan energi baru.
Pameran ini menjadi pengingat yang puitis: bahwa sepekat apa pun kabut ketidakpastian yang menghadang, manusia akan selalu menemukan celah untuk tetap mengalir, melangkah, dan berkarya. (*)




