IDEA JATIM, MALANG – Prof. Dodi Wirawan Irawanto, SE., M.Com., Ph.D sedang tidak ingin bicara soal semen dan batu bata. Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang itu sedang gelisah soal yang lebih dalam: mentalitas.
Ia tahu betul. Membangun gedung itu gampang. Asal ada uang, jadi. Tapi membangun budaya kerja? Itu seninya. Itulah tantangan terbesarnya saat ini.
Maka, lahirkan sebuah mantra baru di kampus itu: I-PROGRES.
Ini bukan sekadar singkatan keren-kerenan agar terlihat modern. I-PROGRES adalah kristalisasi dari hasil brainstorming panjang. Lahir dari survei keterikatan (engagement survey) yang mendalam ke seluruh sivitas akademika.
Isinya padat. Mencakup nilai Integritas, Pelayanan, Profesionalisme, Gotong Royong, dan Respiritualitas yang diimplementasikan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
”Transformasi tanpa fondasi karakter itu akan kehilangan arah,” ujar Prof. Dodi, Jumat (6/3) lalu.
Kalimatnya mantap. Gelar doktornya dari Australia (Ph.D) dan pengalamannya di bidang manajemen membuatnya paham: organisasi sehebat apa pun akan keropos jika dalamnya rapuh. Integritas (I) diletakkan di depan. Itu harga mati. Tanpa integritas, profesionalisme (P) hanya akan jadi alat untuk menipu.
Prof Dodi punya target besar. Tahun 2028, UNITRI harus menyandang akreditasi “Unggul”. Titik. Tidak boleh ditawar. Caranya? Tidak bisa langsung tancap gas.
Dodi punya analogi menarik soal kecepatan. Ia jujur pada dirinya sendiri. Awalnya, ia ingin organisasi ini langsung lari 100 km/jam. Begitu gas diinjak, semua harus melesat. Semua harus terbang.
Tapi ia sadar. Ia melihat spion. Ia melihat mesinnya. Ia melihat penumpangnya.
”Saat ini kita lari di angka 60 km/jam dulu. Biar semua bisa ikut. Jangan sampai ada yang tertinggal di belakang atau malah mesinnya rontok di tengah jalan,” katanya sambil tersenyum.
Ini manajemen yang manusiawi. Adaptif.
Tahun depan, rencananya naik ke 75 km/jam. Begitu masa jabatannya habis, mesin organisasi diharapkan sudah panas, sehat, dan stabil di angka 100 km/jam. Saat itulah UNITRI akan melesat melampaui batas-batasnya sendiri.
Tapi jangan main-main. Di balik sikap kalemnya, Dodi menyiapkan sistem yang tegas. Ada reward, ada punishment.
Sivitas akademika yang menunjukkan performa luar biasa dalam mengimplementasikan nilai I-PROGRES akan dapat panggung. Diberi apresiasi di forum resmi. Bahkan ada insentif finansial. Prestasi harus dihargai.
Sebaliknya, yang malas atau sengaja menghambat laju organisasi? Sanksi menanti. Tegas. Aturan harus tegak jika ingin maju.
Dodi ingin UNITRI segera naik kelas. Dari klaster Madya ke klaster Utama. Jalurnya jelas lewat penguatan Tridarma Perguruan Tinggi: riset yang kuat, publikasi ilmiah yang tajam, dan pengabdian masyarakat yang punya dampak nyata. Bukan sekadar formalitas di atas kertas.
”I-PROGRES itu bahan bakarnya,” tegasnya lagi.
Ia percaya, jika SDM sudah memiliki keterbukaan (openness) dan rasa hormat (respectfulness), kolaborasi akan tercipta dengan sendirinya. Tidak ada lagi ego sektoral antar unit. Semua bergerak satu komando menuju 2028.
Jika integritas sudah jadi napas, dan profesionalisme sudah jadi otot, maka akreditasi “Unggul” di 2028 bukan lagi mimpi di siang bolong. Itu adalah keniscayaan.
UNITRI sedang bersiap melompat. Dan Prof. Dodi yang memegang kemudinya. Pelan tapi pasti. Ia ingin meninggalkan warisan yang bukan sekadar gedung megah, tapi sebuah kultur. Kultur I-PROGRES. Itulah monumen yang sesungguhnya. (*)




