IDEA JATIM, MALANG – Masalah patah tulang (fraktur) di Indonesia kini mendapatkan angin segar berkat inovasi brilian dari sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (FK UM). Mereka berhasil menyulap limbah cangkang udang yang selama ini dianggap sampah menjadi gel biomaterial yang berfungsi sebagai pengganti pen tulang konvensional.
Inovasi yang dinamai tim Crustalux ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya kasus fraktur di Indonesia yang mencapai 5,5% pada tahun 2023.
Selama ini, penggunaan pen logam pada pasien patah tulang sering kali menimbulkan risiko infeksi, reaksi penolakan tubuh, hingga biaya operasi tambahan untuk pengangkatan implan.
Zherly Freya Thalia, ketua tim Crustalux, menjelaskan bahwa gel biomaterial hasil riset mereka jauh lebih biokompatibel (menyatu dengan tubuh) dan ekonomis. ”Kami mengembangkan gel biomaterial yang dapat terdegradasi secara alami di dalam tubuh. Jadi, pasien tidak perlu menjalani operasi kedua untuk pengangkatan pen, sekaligus meminimalisir risiko infeksi,” ujar Zherly.
Bahan baku utama gel ini adalah hidroksiapatit yang diekstraksi dari cangkang udang vaname (Litopenaeus vannamei). Cangkang udang kaya akan kalsium karbonat dan fosfor, dua mineral utama yang menyusun tulang manusia. Formulasi tersebut kemudian dipadukan dengan alginat dan gelatin untuk memastikan daya rekat dan kecocokan yang sempurna dengan jaringan tubuh. Penelitian ini dilakukan melalui program Kreativitas Mahasiswa – Riset Eksakta (PKM-RE) yang didanai oleh Kemendikbudristekdikti, di bawah bimbingan dosen FK UM, Qory Tiffani Rahmatika, S.Kep., Ns., M.Kep.
Tak hanya unggul di laboratorium, karya inovatif ini juga berhasil mengharumkan nama Universitas Negeri Malang dengan meraih medali perunggu di ajang bergengsi PIMNAS 38. Keberhasilan ini membuktikan bahwa mahasiswa UM mampu menghadirkan solusi kesehatan masa depan yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.
Dengan hadirnya inovasi ini, diharapkan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku medis dapat berkurang, sekaligus memberikan alternatif pengobatan patah tulang yang lebih manusiawi dan terjangkau bagi masyarakat luas. (*)



