IDEA JATIM, MALANG – Luas tanahnya 2.739 meter persegi. Bangunannya lebih luas lagi : 3.800 meter persegi. Kongregasi Murid-Murid Tuhan (CDD) dan Yayasan Pendidikan Kolese Santo Yusup kini membangun gedung baru untuk SD Saint Joseph Montessori Elementary School (SJM-ES).
Jumat (13/2) lalu, dilakukan peletakan batu pertama.
Tahun depan, lokasi itu akan berubah total. SD SJM-ES tidak lagi ‘menumpang’ di gedung TK SJMS. ”Juli 2027 harus sudah finishing,” ujar Antonius Widitrianto. Tegas. Dia adalah Kepala Sekolahnya. Sosok di balik proyek besar di bawah naungan Kongregasi Murid-Murid Tuhan (CDD) ini.
Apa yang istimewa?
Bukan soal betonnya. Bukan soal megahnya. Tapi soal isinya : Montessori.
Di sekolah ini, istilah “anak berkebutuhan khusus” itu tidak laku.
Kenapa? Karena bagi Anton dan jajarannya, semua anak memang unik. Titik. Maka, perlakuannya pun khusus. Satu-satu.
Jangan bayangkan kelas klasikal. Guru di depan, murid duduk rapi mendengarkan. Tidak. Di sini, rapor tiap anak beda. Kecepatannya beda. Bahkan kertas kerjanya pun dibuat masing-masing.
Anak tidak dibanding-bandingkan dengan temannya. Capek. Di Montessori, anak hanya dibanding dengan dirinya yang kemarin. Sejauh mana progresnya.
Itu sebabnya desain bangunannya unik. Ada sembilan ruang kelas utama untuk jenjang lower dan upper. Ada lab, perpustakaan, hingga kebun.
Lingkungannya didesain tanpa distraksi. Agar apa? Agar anak punya dorongan belajar dari dalam diri sendiri. Tanpa dipaksa. Tanpa ditekan.
Anton menyebutnya: lingkungan yang dipersiapkan.
Jumat (13/2) lalu, peletakan batu pertama sudah dilakukan. Ada Pimpinan Kongregasi Provinsial CDD, RP. Laurentius Fol Piluit, CDD. Ada Ketua Yayasan Kolese Santo Yusup, RP. Agustinus Lie, CDD.
Mereka tidak sedang sekadar membangun gedung. Mereka sedang membangun masa depan yang tidak setengah-setengah. “Ini karena buah kepercayaan yang besar. Sekolah Montessori tampil beda. Siap berkontribusi untuk pendidikan anak bangsa,” ucap RP. Laurentius Fol Piluit, CDD.
Saya membayangkan, betapa indahnya sekolah kalau semua anak merasa dihargai. Bukan karena nilai matematikanya seratus, tapi karena keunikannya masing-masing.
Dunia sudah berubah. Pendidikan pun harus ikut lari. (*)




