IDEAJATIM.ID, MALANG — Transformasi digital dalam dunia pendidikan kian menemukan momentumnya. Kali ini, giliran para guru di MTs Almaarif 01 Singosari, Kabupaten Malang, yang merasakan langsung sentuhan inovasi tersebut melalui Workshop Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Berbasis Artificial Intelligence (AI) yang digelar oleh Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Departemen Matematika Universitas Negeri Malang.


Kegiatan yang digelar pada, Jumat, (10/4/2026) kemarin tersebut diinisiasi oleh tiga mahasiswa S3 Pendidikan Matematika UM—Konstantinus Denny Pareira Meke, Ulfa Masamah, dan Wiga Ariani—yang berkolaborasi dengan dosen berpengalaman di bawah Ketua Tim Dr.rer.nat., I Made Sulandra, M.Si. Tim ini juga diperkuat oleh Dr. Tomi Listiawan, S.Si., M.Pd, Mohammad Agung, S.Pd., M.Sc, dan Azizah, S.Pd., M.Si.
Sebanyak 40 guru antusias mengikuti kegiatan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik langsung pemanfaatan teknologi AI dalam menyusun proposal PTK yang sistematis, relevan, dan adaptif terhadap tantangan pembelajaran abad ke-21. Workshop ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak.
Dalam sambutannya, Dr.rer.nat. I Made Sulandra, M.Si. menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang berbasis kebutuhan riil di lapangan.
“Pemanfaatan AI dalam penyusunan PTK bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi untuk memperkuat kapasitas mereka dalam merancang penelitian yang lebih tajam dan berdampak,” ujarnya.
Ia juga membuka peluang kolaborasi lanjutan antara sekolah dan kampus, menegaskan bahwa sinergi ini merupakan kunci peningkatan kualitas pendidikan yang berkelanjutan.
Sedangkan Kepala MTs AlMaarif 01 Singosari, Dwi retno Palupi, M.Pd. menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim PKM dari Departemen Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang atas terselenggaranya workshop ini.
Baginya, kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan guru dalam meningkatkan kompetensi penelitian sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, khususnya pemanfaatan AI dalam pembelajaran.
“Kami melihat para guru sangat antusias dan mendapatkan pengalaman baru yang adaptif dan aplikatif dalam menyusun proposal PTK yang lebih sistematis dan inovatif. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah kami,” ujar Palupi.
Salah satu sesi yang paling menyita perhatian yaitu saat Dr. Tomi Listiawan, M.Pd sebagai pemateri utama menghadirkan perspektif segar dalam penyusunan PTK berbasis AI. Beliau memperkenalkan strategi penggunaan prompt terstruktur yang memungkinkan guru menghasilkan draft proposal secara lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas akademik.
“AI adalah alat bantu, bukan jalan pintas. Kekuatan utama tetap pada pemahaman metodologi penelitian yang baik,” tegasnya.
Dalam sesi praktik, para peserta diajak langsung menggunakan berbagai platform AI untuk menyusun komponen penting PTK, mulai dari identifikasi masalah pembelajaran, perumusan tujuan, hingga penyusunan instrumen penelitian. Pendampingan intensif yang diberikan membuat peserta tidak hanya memahami, tetapi juga mampu mengaplikasikan teknologi tersebut secara mandiri. Antusiasme peserta terlihat jelas, terutama saat mereka berhasil menghasilkan draft proposal dengan bantuan AI dalam waktu relatif singkat. Bagi banyak guru, pengalaman ini menjadi titik balik dalam memandang teknologi—dari yang semula dianggap rumit menjadi alat yang mempermudah kerja profesional mereka.
Workshop ini semakin semarak, saat bedah proposal PTK yang dipandu langsung oleh dr. rer. nat. I Made Sulandra, M.Si. Dalam sesi ini, proposal peserta dikupas secara mendalam—mulai dari latar belakang hingga metodologi penelitian—memberikan ruang refleksi sekaligus perbaikan konkret bagi para guru. Pendekatan ini dinilai efektif karena tidak hanya mengoreksi, tetapi juga membangun pemahaman konseptual peserta terhadap penelitian tindakan kelas.
Lebih dari sekadar workshop, kegiatan ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam pengembangan profesional guru—dari pendekatan konvensional menuju pendekatan berbasis teknologi dan data. Workshop ini juga menjadi bagian dari komitmen Departemen Matematika FMIPA UM dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak nyata dan berkesinambungan.
Di tengah tuntutan peningkatan kualitas pembelajaran, kehadiran AI dalam praktik pendidikan membuka peluang besar. Namun, seperti yang ditekankan dalam workshop ini, teknologi hanya akan bermakna jika digunakan secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
Menutup rangkaian kegiatan, workshop ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan penanda lahirnya ekosistem baru pembelajaran yang kolaboratif, reflektif, dan berbasis teknologi. Sinergi antara dunia akademik dan sekolah telah menunjukkan bahwa inovasi tidak harus menunggu kebijakan besar, tetapi bisa dimulai dari ruang kelas—dari guru yang terus belajar dan berani bertransformasi.
Di tengah arus disrupsi digital, langkah MTs Almaarif 01 Singosari bersama tim S3 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang menjadi bukti bahwa pendidikan Indonesia mampu bergerak adaptif tanpa kehilangan pijakan ilmiahnya. Dari Singosari, semangat perubahan itu kini menyala—menginspirasi, menggerakkan, dan membuka jalan bagi masa depan pembelajaran yang lebih cerdas, manusiawi, dan berdampak. (*)




