IDEA JATIM, MALANG – Angkanya 21. Dalam bahasa Jawa: Selikur. Tapi di SD Anak Saleh, Malang, angka itu bukan sekadar urutan umur. Ia adalah doa: Selalu Peduli dan Bersyukur.
Sabtu lalu, suasana di Aula Filkom Universitas Brawijaya beda. Tidak ada ketegangan ujian. Yang ada adalah keguyuban para orang tua siswa. Mereka merayakan milad sekolah yang sudah masuk usia dewasa: 21 tahun.
Prof. Dr. Imron Arifin, Ketua Yayasan, berdiri di depan. Bicaranya dalam. Beliau tidak hanya bicara soal angka lulusan yang sudah ribuan. Beliau bicara soal Ziyadatul Khoir. Bertambahnya kebaikan.
”Visi kita itu sukses dunia akhirat,” ujarnya. Singkat. Padat.
Tapi Prof. Imron tidak sedang ingin berbasa-basi. Beliau gelisah. Ada mendung di wajahnya saat bicara soal moral generasi sekarang. Soal bullying. Soal vandalisme. Dan yang paling menyesakkan: guru yang kini takut mendisiplinkan siswa karena bayang-bayang laporan polisi.
Maka, Prof. Imron menoleh ke belakang. Ke Bung Karno. Ke konsep Character Building. Membangun karakter itu “PR” yang belum selesai sejak 1945. Ternyata, membangun gedung lebih mudah daripada membangun tabiat manusia.
Kepala SD Anak Saleh, Andreas Setiyono, punya cara unik menerjemahkan angka 21 itu. Katanya, itu simbol harmoni. Angka 2 untuk peran wanita (Ibu), angka 1 untuk peran pria (Ayah).
Pesan Ustadz Andre jelas: Sekolah tidak bisa jalan sendiri. Ibu harus “berseri” dan berilmu. Ayah harus jadi penyejuk jiwa. Kalau di rumah sudah adem, di sekolah pasti beres.
Di SD yang terletak di Jalan Arumba ini, para guru punya sebutan baru bagi diri mereka. Bukan sekadar buruh pengajar. Bukan cuma pencari nafkah.
”Kami ini Pejuang Surga,” tegas Andre.
Sebuah janji yang berat. Tapi di usia ke-21 ini, mereka tampak mantap melangkah ke sana. Mereka ingin mencetak lulusan yang tidak hanya pintar secara otak, tapi juga kokoh secara hati.
Begitulah. Pendidikan memang bukan soal angka di rapor belaka. Tapi soal keberkahan yang terus mengalir. Dunia. Juga akhirat. (*)



