IDEA JATIM, MALANG – Anak-anak itu tidak pulang. Mereka menginap di sekolah. Tidur beralas seadanya. Nama acaranya: Pondok Ramadan. Lokasinya di SD Muhammadiyah 4 Kota Malang. Orang lebih akrab menyebutnya: SD MUPAT. Acaranya tiga hari. Mulai Kamis (26/2) lalu.
Bagi siswa di sana, tidur di sekolah bukan siksaan. Sudah biasa. Ada program rutin bulanan namanya Muqayyam. Jadi, ketika diminta bermalam di hari kedua, mereka justru riang. Sudah siap mental. Sudah mandiri.
Tapi Hana Ayudah, M.Pd, sang Kepala Sekolah, punya misi besar. Dia tidak ingin ini hanya sekadar ritual tahunan. Hana ingin karakter. Hana ingin disiplin. Terutama soal shalat. ”Saya berpesan agar sikap anak-anak saat shalat betul-betul ditekankan,” tegas Hana.
Bagi Hana, shalat adalah cermin diri. Budaya yang harus melekat. Maka dia mewanti-wanti betul. Jangan sampai shalatnya masih bercanda. Atau, istilahnya: ora karu-karuan.
Saya suka ketegasan itu. Guru-guru pun dikerahkan maksimal. Satu guru mengawal kelompok kecil, hanya 20 anak. Supaya terpantau. Supaya karakter yang dibentuk tidak meleset.
Fokusnya jelas: Tujuh Pembiasaan Karakter. Mulai bangun pagi, belajar, sampai urusan makan bergizi. Semua dirancang. Semua diatur.
Namun, momen yang paling menggetarkan justru hadir dari tamu jauh. Datang dari bumi yang sedang berdarah: Palestina. Syekh Mohammad Darwish namanya. Ini kali kedua SD MUPAT mendatangkan narasumber langsung dari sana.
Tujuannya satu: Menggugah empati.
Lebih dari 300 siswa kelas 4, 5, dan 6 berkumpul. Mereka mendengarkan kisah perjuangan. Hana ingin anak-anaknya sadar. Bahwa di saat mereka bisa tidur nyenyak di Malang, ada anak-anak seumur mereka di Palestina yang tidak tahu apakah besok masih bisa melihat matahari.
”Kami ingin mereka bersyukur. Di sini bisa tidur nyenyak dan makan enak tanpa kekhawatiran,” ujar Hana.
Anak-anak itu pun terketuk. Mereka memberikan infak terbaik. Bukan karena dipaksa, tapi karena hati yang bicara. Kontras itu nyata: Malang yang tenang dan Palestina yang mencekam.
Tentu, Ramadan di SD MUPAT tetap ada cerianya.
Di hari pertama, sekolah sudah riuh. Yang kelas 1 asyik bikin kreasi lampion. Kelas 2 sibuk membuat mading. Kelas 3 belajar screen printing. Yang besar-besar? Menonton film Islami dan menulis puisi Ramadan.
Ramadan memang harus berwarna. Tapi di SD MUPAT, warna itu adalah kemandirian, syukur, dan rasa peduli yang dalam.
Satu hal yang pasti: Anak-anak itu pulang dengan hati yang lebih kaya. (*)



