Kamis, 12 Februari, 2026

SD Islam Sabilillah Malang 2, Tumbuhkan Mental Global Sejak Dini

IDEA JATIM, MALANG – ​Namanya Loriane Savary. Asalnya jauh: Paris, Prancis. Mahasiswi Institut Catholique de Paris. Dia calon sarjana sejarah dan ilmu politik. Tapi, pekan lalu, dia ada di Malang. Di SD Islam Sabilillah Malang 2.
​Tugasnya bukan mengajar politik. Dia jadi relawan. Jadi bule yang menantang nyali anak-anak kecil.

​Acaranya seru: English Challenge. Temanya Tasty. Soal rasa.
​Konsepnya cerdas. Tidak di dalam kelas yang kaku. Mereka bikin Market Day. Jualan makanan daerah. Ada yang jualan jajanan, ada yang jualan minuman. Persis pasar tradisional.

​Tapi ada syaratnya: dilarang pakai bahasa Indonesia. Harus bahasa Inggris.
​Bayangkan. Ini siswa kelas 1 SD. Masih lucu-lucunya. Baru saja lepas dari seragam TK. Tapi mereka sudah harus “berkelahi” dengan lidah asing.

​Miss Lolo—begitu mereka menyapa Loriane—turun langsung. Dia jadi pembeli. Dia keliling ke lapak-lapak siswa. Terjadi transaksi. Ada dialog. Ada tawar-menawar. ​”Saya kagum. Mereka berani. Percaya diri sekali,” kata Miss Lolo.

​Lolo tidak berjarak. Dia bisa akrab dengan cepat. Anak-anak Sabilillah pun begitu. Tidak ada takut-takutnya. Ada yang menyapa setiap hari, ada yang minta peluk. Santun tapi cerdas. Itu karakter yang ditangkap Lolo.

​Tentu, anak-anak itu tidak dilepas begitu saja. Para guru sudah memberi bekal. Bagaimana cara menyapa pembeli. Bagaimana menyebutkan harga. Bagaimana menjelaskan rasa.
​Inilah cara SD Islam Sabilillah Malang 2 membumikan kurikulum Cambridge. Tidak hanya teks di buku. Tapi praktik di lapangan.

​Wakil Kepala Sekolah, Yuyun Dwi Suryandari, S.Pd tahu betul kuncinya: jangan sampai monoton. Belajar bahasa itu harus asik. Kalau cuma di kelas, bosan. Maka dibuatlah tantangan.
​Hasilnya? Luar biasa.

​Anak-anak kelas 1 itu presentasi. Di depan Miss Lolo. Mereka jelaskan apa yang mereka jual. Harganya berapa. Rasanya bagaimana. Miss Lolo balik bertanya. Terjadi dialog.
​Di situlah kualitas terlihat. Anak-anak berusaha keras memahami ucapan Lolo. Lolo pun menyesuaikan kecepatan bicaranya. Inilah yang disebut pengalaman emas. Belajar langsung dari sumbernya. Lidah mereka jadi terlatih. Pelafalan jadi pas.

​Pekan lalu, di SD Islam Sabilillah 2, bahasa Inggris bukan lagi pelajaran yang menakutkan. Ia jadi alat komunikasi yang menyenangkan.
​Kalau kelas 1 saja sudah berani menantang mahasiswa Prancis, bayangkan akan jadi apa mereka sepuluh tahun lagi.

​Dunia memang sudah tanpa batas. Dan anak-anak SDIS-2 ini sudah punya kuncinya. (*)

Berita Terkini

Pastikan Stok dan Harga Aman; BAPANAS RI dan Tim Gabungan Pantau Harga Pangan di Batu

IDEA JATIM, BATU – Tim gabungan yang dipimpin oleh...

KPU Aktif Sosialisasi Kepemiluan; Gandeng GOW Batu

IDEA JATIM, BATU - Pesta rakyat atau Pemilu masih...

Bangun Birokrasi yang Adaptif, Kompeten, dan Berdaya Saing; Nurochman Ekspose Manajemen Talenta di BKN

IDEA JATIM, JAKARTA – Wali Kota Batu Nurochman bersama...

Memasuki Tahun Ke-4, DWP UM Perkuat Solidaritas Melalui Santunan Ramadan

​IDEA JATIM, MALANG – Dharma Wanita Persatuan Universitas Negeri...
spot_img