IDEA JATIM, MALANG – Namanya Loriane Savary. Asalnya jauh: Paris, Prancis. Mahasiswi Institut Catholique de Paris. Dia calon sarjana sejarah dan ilmu politik. Tapi, pekan lalu, dia ada di Malang. Di SD Islam Sabilillah Malang 2.
Tugasnya bukan mengajar politik. Dia jadi relawan. Jadi bule yang menantang nyali anak-anak kecil.
Acaranya seru: English Challenge. Temanya Tasty. Soal rasa.
Konsepnya cerdas. Tidak di dalam kelas yang kaku. Mereka bikin Market Day. Jualan makanan daerah. Ada yang jualan jajanan, ada yang jualan minuman. Persis pasar tradisional.
Tapi ada syaratnya: dilarang pakai bahasa Indonesia. Harus bahasa Inggris.
Bayangkan. Ini siswa kelas 1 SD. Masih lucu-lucunya. Baru saja lepas dari seragam TK. Tapi mereka sudah harus “berkelahi” dengan lidah asing.
Miss Lolo—begitu mereka menyapa Loriane—turun langsung. Dia jadi pembeli. Dia keliling ke lapak-lapak siswa. Terjadi transaksi. Ada dialog. Ada tawar-menawar. ”Saya kagum. Mereka berani. Percaya diri sekali,” kata Miss Lolo.
Lolo tidak berjarak. Dia bisa akrab dengan cepat. Anak-anak Sabilillah pun begitu. Tidak ada takut-takutnya. Ada yang menyapa setiap hari, ada yang minta peluk. Santun tapi cerdas. Itu karakter yang ditangkap Lolo.
Tentu, anak-anak itu tidak dilepas begitu saja. Para guru sudah memberi bekal. Bagaimana cara menyapa pembeli. Bagaimana menyebutkan harga. Bagaimana menjelaskan rasa.
Inilah cara SD Islam Sabilillah Malang 2 membumikan kurikulum Cambridge. Tidak hanya teks di buku. Tapi praktik di lapangan.
Wakil Kepala Sekolah, Yuyun Dwi Suryandari, S.Pd tahu betul kuncinya: jangan sampai monoton. Belajar bahasa itu harus asik. Kalau cuma di kelas, bosan. Maka dibuatlah tantangan.
Hasilnya? Luar biasa.
Anak-anak kelas 1 itu presentasi. Di depan Miss Lolo. Mereka jelaskan apa yang mereka jual. Harganya berapa. Rasanya bagaimana. Miss Lolo balik bertanya. Terjadi dialog.
Di situlah kualitas terlihat. Anak-anak berusaha keras memahami ucapan Lolo. Lolo pun menyesuaikan kecepatan bicaranya. Inilah yang disebut pengalaman emas. Belajar langsung dari sumbernya. Lidah mereka jadi terlatih. Pelafalan jadi pas.
Pekan lalu, di SD Islam Sabilillah 2, bahasa Inggris bukan lagi pelajaran yang menakutkan. Ia jadi alat komunikasi yang menyenangkan.
Kalau kelas 1 saja sudah berani menantang mahasiswa Prancis, bayangkan akan jadi apa mereka sepuluh tahun lagi.
Dunia memang sudah tanpa batas. Dan anak-anak SDIS-2 ini sudah punya kuncinya. (*)




