IDEA JATIM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Safari Ramadan 1447 Hijriah di Aula Kampus 2 pada Senin (24/2/2026). Dalam kegiatan bertema “Ramadhan Berkemajuan” tersebut, Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. menegaskan bahwa esensi ibadah puasa bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan instrumen sistematis untuk mengendalikan syahwat kekuasaan dan keserakahan manusia.
Nurul menjelaskan bahwa Ramadan, yang secara etimologis berasal dari kata ar-ramadh (panas membakar), seharusnya menjadi momentum untuk menghanguskan akar keserakahan. Ia merefleksikan kisah Nabi Adam yang jatuh bukan karena godaan fisik, melainkan karena ambisi terhadap keabadian dan kekuasaan.
”Inti puasa adalah pengendalian diri. Secara fikih, makan karena lupa tidak membatalkan puasa, yang artinya esensinya bukan pada rasa lapar, melainkan pada kemampuan mengontrol kesadaran. Siapa pun yang gagal menahan diri, baik itu pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa, pasti akan jatuh,” tegas Nurul di hadapan sivitas akademika UMM.
Lebih lanjut, ia membedah tiga tingkatan puasa: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani hanya sebatas menahan kebutuhan fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan perilaku sosial, sementara puasa ruhani berfokus pada kedekatan spiritual kepada Allah. Ia memperingatkan bahwa tanpa perbaikan akhlak, puasa hanya akan menjadi aktivitas fisik yang sia-sia.
Dalam perspektif organisasi, Nurul juga memuji keberanian intelektual Muhammadiyah dalam melakukan ijtihad. Transformasi dari metode rukyat menuju hisab, hingga gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal, dinilai sebagai langkah ilmiah dalam membaca realitas zaman tanpa mengubah substansi ibadah mahdhah. ”Perubahan itu terjadi pada instrumen, bukan substansi. Ini adalah bentuk kemajuan berpikir,” imbuhnya.
Kegiatan Safari Ramadan ini sekaligus menegaskan posisi UMM sebagai ruang pembentukan karakter. Kampus diharapkan menjadi laboratorium etika yang menyeimbangkan antara spiritualitas, intelektualitas, dan kepedulian sosial. Hal ini bertujuan agar para akademisi tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki integritas untuk tidak menyalahgunakan jabatan atau terjebak dalam kesombongan akademik.
Melalui refleksi ini, Ramadan diposisikan sebagai madrasah tahunan yang melatih manusia untuk menundukkan egonya sendiri demi kemajuan bersama. (*)




