IDEA JATIM, MALANG – Namanya unik: “Weekend Experience”. Lokasinya di Jalan Bandung. Di madrasah yang sudah punya nama besar: MIN 1 Kota Malang.
Tapi jangan bayangkan ini sekadar les tambahan. Bukan. Ini soal nyali. Soal bagaimana merobohkan tembok rasa malu yang selama ini memenjara lidah anak-anak kita.
Siti Aisah, sang Kepala Madrasah, rupanya gelisah. Beliau melihat kenyataan yang agak kontradiktif. Di satu sisi, murid-muridnya cerdas luar biasa. Cepat tangkap. Di sisi lain, meski sudah belajar bahasa Inggris dari kelas satu sampai kelas enam, ada yang mampet: kemampuan conversation.
Anak-anak itu bukannya tidak bisa. Mereka hanya takut. Takut dianggap “Sok Inggris”.
Inilah penyakit kronis dalam pendidikan bahasa kita. Lingkungan tidak mendukung. Ekosistem tidak terbentuk. Kalau ada siswa yang mencoba cas-cis-cus, teman di sebelahnya mungkin akan mencibir. Hasilnya? Mereka memilih diam. Amannya begitu.
Bu Aisah tidak mau diam. Beliau ingin MIN 1 Kota Malang naik kelas menuju International Class Program (ICP). Syaratnya mutlak: bahasa Inggris bukan lagi sekadar hafalan di atas kertas, tapi harus jadi napas sehari-hari.
Lalu, dicarilah mitra. Pilihan jatuh ke Blitar. Namanya pun provokatif: Kampung Keminggris.
Saya suka istilah ini. “Keminggris” yang biasanya jadi ejekan, justru dipeluk erat-erat. Dijadikan identitas positif. Di program ini, aturannya tegas tapi asyik: tidak boleh takut salah, tidak boleh malu. Ngomong saja. Mau grammar-nya berantakan, urusan belakangan. Yang penting lidah tidak kelu lagi.
Bahkan, Bu Aisah bercerita dengan antusias, guru-guru pun siap dikoreksi murid. Inilah pendidikan yang inklusif. Guru bukan dewa yang selalu benar.
Kenapa pilih dari Blitar? Pertimbangannya : efisiensi. Personelnya banyak, anggarannya hemat. Praktis.
Kegiatannya pun tak tanggung-tanggung. Sabtu dan Minggu (11-12/4) lalu, siswa kelas 3 dan 4 digembleng dari jam tujuh pagi sampai empat sore. Sabtu depan, giliran kelas 1 dan 2.
Tantangannya? Luar biasa riuh. Bayangkan satu sekolah dilarang bicara bahasa Indonesia. Tidak boleh pakai bahasa Arab. Apalagi bahasa Jawa atau Madura.
Anak-anak bingung menerjemahkan instruksi. Saling tanya dengan bahasa isyarat atau potongan kata seadanya. Tapi di situlah seninya. Di tengah keriuhan itu, keberanian sedang tumbuh.
Madrasah di Jalan Bandung ini sedang membangun peradaban baru. Mereka sadar, untuk bersaing di kancah internasional, pintunya adalah bahasa. Dan untuk membuka pintu itu, mereka harus berani menjadi “Sok Inggris”.
Ternyata, menjadi “Keminggris” itu perlu. Biar dunia tahu, dari Malang, anak-anak madrasah siap bicara pada dunia. Tanpa rasa takut. Tanpa rasa canggung.
Hebat!



