IDEA JATIM, MALANG – Dia masih sangat muda. Saat dilantik jadi rektor, usianya baru 27 tahun.
Mungkin dia rektor termuda dalam sejarah kita. Namanya: Risa Santoso, B.A., M.Ed. Kini dia menahkodai Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) ASIA Malang.
Bagi Risa, 8 Maret bukan sekadar seremoni. Bukan hanya soal bagi-bagi bunga atau ucapan selamat Hari Perempuan Internasional di grup WhatsApp.
Bagi lulusan Harvard ini, 8 Maret adalah pengingat. Tentang perjuangan yang belum tuntas. Tentang kunci yang harus dipegang setiap perempuan: pendidikan.
Risa melihat kenyataan yang getir. Banyak perempuan pintar, tapi langkahnya terhenti. Bukan karena kurang otak. Tapi karena stigma. Karena ketiadaan dukungan.
Ada mahasiswinya di Teknik Informatika yang curhat. Dia punya mimpi besar. Ingin berkarier di kota besar. Tapi apa daya? Keluarga menuntutnya segera menikah. Lalu diam di rumah.
”Kita perlu menyuarakan kebebasan pilihan ini,” tegasnya.
Risa tidak hanya bicara. Dia beraksi. Di ITB ASIA, dia membangun “laboratorium empati”.
Dia tahu susahnya jadi perempuan karier. Maka, dia buat kebijakan yang “nguwongke” manusia. Dosen atau staf boleh bawa anak ke kantor. Asalkan pekerjaan beres. Sederhana, tapi dampaknya luar biasa bagi mental seorang ibu.
Dia juga buka kelas hybrid. Untuk siapa? Untuk para perempuan yang waktunya tersita urusan domestik tapi tetap haus ilmu. Agar gelar S1 atau S2 bukan lagi sekadar mimpi di sela-sela cuci piring.
Visi Risa terus meluas. Dia merangkul ekonomi rakyat. Lewat Inkubator Bisnis, dia melatih ibu-ibu pelaku usaha. Program Mekaarpreneur namanya. Kerja sama dengan PNM.
Tahun 2026, program ini akan meledak di tujuh titik di Indonesia. Dimulai dari Jawa Timur. Risa ingin perempuan tidak hanya berdaya secara intelektual, tapi juga berdaya secara dompet.
Tahun 2024 lalu, dunia mengakuinya. Dia menerima penghargaan JCI Ten Outstanding Young Persons (TOYP) World. Tapi Risa tetap membumi.
Dia terinspirasi dari Sabrina Pasterski.
Fisikawan MIT yang bikin pesawat sendiri saat remaja. Risa ingin, suatu saat nanti, melihat perempuan jadi pemimpin perusahaan atau ahli teknik bukan lagi dianggap “aneh” atau “luar biasa”. Harus jadi biasa. Sewajarnya saja.
Pesan Risa untuk anak muda perempuan Indonesia sangat telak: “Jangan batasi diri karena suara bising di luar sana.”
Jangan dengarkan mereka yang bilang perempuan tidak perlu sekolah tinggi. Fokus saja asah skill. Dunia sekarang sudah terbuka lebar.
Syaratnya cuma satu: berani ambil kesempatan. Lalu buktikan dengan karya. Bukan dengan kata-kata. (*)




