Kamis, 19 Februari, 2026

Ramadan 1447 H Rektor UMM Jelaskan Makna Ulil Albab

IDEA JATIM, MALANG – Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memaknai Ramadan 1447 Hijriah sebagai momentum besar bagi kebangkitan peradaban kaum intelektual.

​Hal tersebut ditegaskan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR Fachruddin, Selasa (17/2). Di hadapan ribuan jemaah, ia menyerukan agar bulan suci ini tidak terjebak menjadi rutinitas tahunan belaka. ​”Ramadan harus menjadi ruang pembentukan karakter dan intelektual untuk melahirkan generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan nyata,” tegas Nazar.

​Nazar mengajak jemaah merenungi esensi ibadah di malam pertama Ramadan ini. Menurutnya, ritual seperti salat, puasa, dan zakat harus terinternalisasi menjadi daya dorong kemajuan sosial (indigenous forces) yang tulus.

​Ia mencontohkan bangsa-bangsa maju yang mampu berinovasi karena memiliki etos perbaikan berkelanjutan—sebuah nilai yang sejatinya sangat ditekankan dalam ajaran Islam.
​“Jika seluruh dimensi ibadah menyatu dalam kehidupan sehari-hari, maka akan selalu ada dorongan untuk menciptakan kemajuan baru, bukan justru melakukan perusakan,” imbuhnya.

​Gagasan besar ini tidak hanya berhenti pada ranah individu. Dalam konteks pendidikan tinggi, Kampus Putih berkomitmen menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi utama Center of Excellence (CoE).
​Nazar memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi karakter bangsa dari pasif menjadi pribadi yang tangguh dan progresif. Ia mendorong mahasiswa dan dosen untuk menjadi golongan pemikir yang cerdas secara intelektual sekaligus peka terhadap tanda-tanda kebesaran Tuhan.

​Lebih jauh, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini menyinggung tantangan sosial seperti ketidaktertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of the commons. Baginya, perilaku koruptif bukan hanya soal materi, melainkan ketidakmampuan menahan ego di ranah sosial.
​“Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan. Kedisiplinan itulah yang mencegah karakter korup. Perilaku korup dalam makna luas adalah ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelasnya.

​Nazar juga menguraikan makna jihad dalam perspektif modern sebagai badzlul juhdi atau ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya. Seorang muslim yang berpuasa idealnya memiliki etos kerja superior, solutif, dan inovatif.

​Ia berharap umat Islam tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi juga produsen kebudayaan yang disegani dunia. ​“Bangsa yang unggul adalah bangsa yang selalu berpikir untuk melakukan perubahan yang membawa kebaikan dan membesarkan hati semua orang,” pungkasnya.

​Menutup ceramahnya, Nazar berharap momentum Ramadan ini mampu mengkristal menjadi gerakan kolektif untuk mewujudkan the society of Ulul Albab—masyarakat yang memberikan solusi konkret bagi permasalahan bangsa. (*)

Berita Terkini

Tantangan dan Peluang Pendidikan Formal di Era Digital Indonesia

IDEA JATIM-Era digital membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi...

Peran Teknologi Digital dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Formal

IDEA JATIM-Teknologi digital telah menjadi elemen penting dalam peningkatan...

Transformasi Pendidikan Formal di Era Digital Indonesia

IDEA JATIM-Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam...

Bidik Kuota 5.750 Kursi, IKA UM Bongkar Rahasia Taklukkan Beasiswa LPDP 2026

IDEA JATIM, ​MALANG - Peluang emas menempuh studi lanjut...
spot_img