IDEA JATIM, MALANG – Nama programnya sederhana: Berbagi Ifthar. Tapi semangatnya luar biasa. Konsisten. Sebulan penuh. Tanpa jeda.
Itulah yang dilakukan para orang tua siswa di SD Insan Amanah Malang.

Mereka tergabung dalam Fortusia. Forum Orang Tua Siswa.
Ini tahun kedua. Tahun lalu sukses. Tahun ini lebih gila lagi. Bukan gila dalam arti negatif. Tapi gila semangatnya. Gila sedekahnya.
”Tahun lalu 30 hari full. Tahun ini, insyaallah juga sama, sampai malam takbir,” ujar Asrilah Febrina R. Dia adalah Koordinator Sie Keagamaan Fortusia.
Asrilah bukan sekadar bicara. Dia manajer lapangan yang mumpuni. Sistemnya rapi. Pendanaannya modern: pakai QRIS. Majelis Taklim Fortusia punya dompet digital sendiri. Wali murid tinggal scan, transfer, beres.
Dana yang terkumpul dikelola Sie Agama. Lalu disalurkan oleh pengurus. Ada ketua, wakil, bendahara, sampai koordinator kelas. Semua turun tangan.

Caranya unik. Tidak di satu titik. Tidak bikin macet jalanan protokol. Paket takjil dibagikan di sekitar rumah masing-masing pengurus. Ada yang di Ikan Gurami. Ada yang di Villa Bukit Tidar. Ada yang di Sawojajar. Sampai ke Ampeldento.
Targetnya? Orang yang berpuasa. Siapa saja. Bisa tetangga. Bisa jamaah masjid. Bisa anak-anak TPQ. Kemarin sore, sasarannya anak-anak di TPQ Darussalam, Candi Panggung.
Anggarannya terukur. Tiap hari 25 paket. Harganya Rp 10.000-an per bungkus. Murah? Mungkin. Tapi jika dikalikan 30 hari, angkanya jutaan.
Bahkan, di 10 hari terakhir nanti, dosisnya ditambah. Dua kali lipat. Jadi 50 paket per hari. “Kita dobel di akhir,” kata Asrilah penuh semangat.
Ada misi besar di balik bungkus takjil itu. Yakni: pendidikan karakter.
Para orang tua tidak berangkat sendirian. Anak-anak mereka diajak. Ikut membagikan. Biar anak-anak tahu: puasa bukan soal menahan lapar saja. Puasa adalah soal memberi. Soal empati.
Asrilah ingin menanamkan mindset sejak dini. Bahwa pahala puasa itu bisa dilipatgandakan. Caranya? Memberi makan orang yang berbuka. Tanpa mengurangi pahala yang diberi. Itulah matematika langit.
Sekolah pun mendukung penuh. Dr. Suhardini Nurhayati, M.Pd, kepala sekolah, memberi restu total. “Jalan terus, Bu,” begitu pesannya.
Di Fortusia, mereka belajar satu hal penting: istiqomah. Sedekah tidak harus menunggu kaya raya. Sedekah tidak harus menunggu momen besar.
Cukup Rp 10.000. Cukup 25 paket. Tapi dilakukan setiap hari. Itulah yang berat. Itulah yang hebat.
Ramadan memang akan berlalu. Tapi karakter berbagi yang ditanamkan ke anak-anak SD Insan Amanah itu, akan membekas selamanya.
Hingga mereka dewasa nanti. Hingga mereka yang gantian membagikan takjil untuk generasi berikutnya.
Itulah makna sejati dari sebuah forum orang tua. Bukan cuma urusan bayaran sekolah, tapi urusan membentuk jiwa manusia.
Maju terus, Fortusia! (*)




