Pura Astawinayaka ITN Malang Simbol Estetika Bali dan Toleransi

IDEA JATIM, MALANG – Pura Astawinayaka yang berdiri megah di area Kampus II Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang bersiap memasuki babak baru. Simbol toleransi di kampus “Biru” ini selangkah lagi akan memiliki fasilitas yang lebih lengkap dan estetik setelah tim survei dari Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Jawa Timur turun langsung melakukan verifikasi lapangan pada Jumat (07/03).

​Kedatangan tim yang dipimpin oleh Siti Masayu ini bertujuan memastikan kelayakan serta akurasi proposal pembangunan tahap keempat senilai kurang lebih setengah miliar rupiah. Kunjungan penting ini disambut hangat oleh Ketua P2PUTN Malang, Ir. Kartiko Ardi Widodo, MT., dan Wakil Rektor 3 ITN Malang, Dr. Hardianto, ST.,MT.

​Penasehat Pengurus Pura Astawinayaka, Prof. Dr. Eng. Ir. I Made Wartana, MT., menjelaskan bahwa perjuangan mendapatkan hibah ini sangat kompetitif. “Kami sudah bergerak sejak awal 2025 untuk mengusulkan dana kelanjutan pembangunan pura tahap IV. Ada tiga titik penting yang kami ajukan, yaitu candi kurung yang akan diapit dua candi bentar pemedal, bale simpen di utama mandala, dan bale gong di madya mandala,” ungkap Prof. Made yang juga menjabat Ketua PHDI Kota Malang.

​Salah satu keunikan proyek ini adalah komitmen menjaga orisinalitas arsitektur. Prof. Made menekankan bahwa estetika bangunan tetap menjadi prioritas utama. “Agar menjaga pakem dan keseragaman arsitektur Hindu Bali, ornamen bangunan ini nantinya tidak dikerjakan di lokasi. Komponen bangunan akan digarap langsung di bengkel seni di Bali, baru kemudian dikirim dan dirakit ulang di sini,” tambahnya.

​Secara administrasi, Pura Astawinayaka telah dinyatakan sangat siap dengan legalitas resmi dari Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Jika dana hibah ini cair, kepanitiaan diberikan waktu sekitar 120 hari untuk menyelesaikan pembangunan fisik.

​Keberadaan Pura Astawinayaka sendiri memiliki peran strategis yang melampaui batas kampus. Selain menjadi pusat ibadah sivitas akademika, tempat ini berfungsi sebagai pura teritorial bagi umat Hindu di wilayah Blimbing hingga Singosari.

​Menutup penjelasannya, Prof. Made berharap pengembangan ini membawa dampak spiritual yang lebih dalam. “Harapan kami, dengan sarana fisik yang semakin lengkap, kualitas ibadah (sradha) dan bhakti umat Hindu di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar bisa terus meningkat,” pungkas dosen Teknik Elektro tersebut. Pura ini kini menjadi potret nyata bagaimana pendidikan teknologi dan nilai spiritual dapat tumbuh berdampingan secara harmonis di ITN Malang. (*)

Berita Terkini

Bentengi Keamanan Pangan, Pemerintah Kejar Sertifikasi Higiene 25 Ribu Dapur Gizi Gratis

IDEA JATIM, MALANG – Keamanan piring makan jutaan anak...

Operasi Pasar Murah Pemkot Batu; Jaga Stabilitas Harga Pangan Jelang Idul Fitri 2026

IDEA JATIM, BATU – Wali Kota Batu, Nurochman, membuka...

Entrepreneur Hub Finance 2026; Dorong Perluasan Akses Pembiayaan UMKM

IDEA JATIM, BATU – Pemerintah Kota Batu berkolaborasi bersama...

UM Gandeng Durham University Inggris: Buka Akses Riset Global dan Studi PhD bagi Dosen

IDEA JATIM, ​MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) memperkuat...
spot_img