IDEA JATIM, MALANG – Penyakit kronis tidak datang mendadak. Ia mengintai dalam diam. Universitas Negeri Malang (UM) sadar akan hal itu. Lewat Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), UM resmi meluncurkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Targetnya jelas: lansia dan pensiunan yang tangguh.
Jumat (10/04) menjadi titik awal. Puluhan peserta memadati lokasi. Mereka tidak sekadar datang untuk berkumpul. Ada misi besar di sana. Deteksi dini diabetes, hipertensi, hingga kolesterol menjadi agenda utama. Layanan ini gratis, namun dampaknya tak ternilai.
Dokter Poliklinik UM, dr. Ifa Mufida, M.M.R.S., menegaskan pentingnya langkah ini. Baginya, data adalah senjata utama dalam dunia medis.
”Kami tidak hanya memeriksa. Kami mendata secara ketat. Kita harus tahu apakah kondisi penyakit peserta terkontrol atau tidak,” tegas dr. Ifa.
Kalimatnya singkat namun penuh penekanan. Prolanis bukan sekadar rutinitas medis. Ini adalah sistem pemantauan berkelanjutan. Tim nakes, mulai dari dokter hingga perawat, bergerak sinkron. Mereka melakukan penyuluhan sekaligus skrining fisik secara komprehensif.
UM melalui Klinik Pratama sedang bersiap. Langkah ini adalah pintu masuk menuju kerja sama lebih luas dengan BPJS Kesehatan RI. Fokusnya bergeser: dari mengobati menjadi mencegah.
Salah seorang pensiunan yang hadir memberikan apresiasi tinggi. Baginya, akses adalah segalanya di usia tua.
”Akses kesehatan yang dekat dan rutin adalah ketenangan bagi kami. Kami merasa tetap dipedulikan oleh institusi tempat kami mengabdi dulu,” ujarnya singkat.
Langkah UM ini adalah implementasi nyata SDGs poin ketiga. Sehat untuk semua usia bukan sekadar slogan. Melalui Prolanis, UM sedang membangun benteng kesehatan bagi para seniornya.
Peserta yang terkontrol berarti beban kesehatan yang berkurang. Masa tua bukan berarti berhenti produktif. Dengan raga yang terjaga, kontribusi pemikiran para lansia ini tetap menjadi aset berharga bagi kampus.
Prolanis UM telah jalan. Komitmen kesehatan kini berada di level yang lebih tinggi. Bukan lagi soal siapa yang sakit, tapi bagaimana memastikan semua tetap sehat. (*)




