IDEA JATIM, MALANG – Pembawa obor metalcore/post-hardcore era baru asal Sunflow, baru saja merilis EP terbaru mereka berjudul Goddess of Fire. Kuintet “Yogyakarta Idolic Hardcore” yang berdiri pada 2024 awal sebagai projek cover JKT48 yang iseng ini memberi warna yang benar-benar segar di dunia musik hardcore Indonesia yang sedang berada pada gelombang besar new-wave beatdown hardcore/90’s hardcore. Verra (Vocal), Bugis (Gitar & Vokal), Edho (Gitar), Yudhis (Bass), dan Opal (Drum) menyajikan 5 track pada EP “Goddess of Fire” ini, yaitu “Agni”, “Salmon Mentai Rice Bowl”, “Goddess of Fire”, “Cha Cha Cha (SunVerse)”, serta “Red Line”.

Overall, EP “Goddess of Fire” merupakan mini album yang bisa dibilang experimental karena pengalaman mendengarkannya yang unik pada setiap lagunya. Garis besar musik Sunflow yang awalnya pada “Unlock” memiliki kesan happy, school vibes, dan idol yang terasa kental melalui Vika yang notabene vokalis terdahulu, mulai bergeser ke arah pendewasaan dan lebih dark khas metalcore 2000-an, namun tetap memberikan twist-twist ala “j-pop/j-metal” pada beberapa lagunya.
Secara lirikal, “Goddess of Fire” tidak hanya berkisah tentang pengalaman personal masing-masing personilnya, namun juga sarat akan berbagai isu sosial-politik yang sedang terjadi di dunia. Pemilihan artwork yang merupakan ilustrasi gambaran kartun Dewi Kali, (Dewi Penentu Zaman Kaliyuga dalam mitologi Hindu yang sering dikaitkan dengan elemen api) sangat cocok dengan isu yang ingin diutarakan oleh Sunflow, yaitu New World Order/scenario dunia masa kini, baik yang terasa di kehidupan sehari-hari maupun yang sering diberitakan di televisi maupun media, namun digambarkan secara “colorful”.
EP dimulai dengan “Agni”, salah satu mantra memulai perang yang dipetik dari penggalan “Jayanti Mangala Kali”, sebuah mantra pemujaan kepada Dewi Kali. Sebuah perpaduan musik trap masa kini dengan elemen musik India yang religius nan kultural.
Sunflow langsung agresif pada “Salmon Mentai Rice Bowl” dengan musik khas metalcore eletronik/crabcore 2000-an ala The Devil Wears Prada & Attack Attack!, memberikan kesan nostalgia bagi alumni anak acara Jogja National Museum dan Nevada, agresifitas yang tanpa ampun, musik disko dan vokal autotune yang mengingatkan kita pada era MySpace, serta chorus “catchy” yang membentuk mood untuk trek-trek selanjutnya.
Trek ketiga, yang berjudul sama dengan nama EP ini, berjudul Goddess of Fire. Bisa dibilang trek ini merupakan salah satu trek arena metalcore yang disajikan pada EP ini, dengan chorus “anthemic” dengan agresifitas modern ala Polaris dan Landmvrks. Sepertinya mereka berniat untuk menjadikan lagu ini sebagai “gacoan” pada penampilan mereka di skala panggung-panggung besar barikade/festival stage, mengingat betapa ikonik dan “anthemic” lagu ini.
Cha Cha Cha (Sunverse) merupakan eksperimentasi paling unik Sunflow sejauh ini. “Gila”, adalah kata yang cukup tepat untuk menjelaskan lagu ini. Berbagai elemen yang cukup tidak lazim pada metalcore, seperti memasukkan “children music”, swing ala cafe, dan kendang yang muncul pada bagian awal lagu dipadu dengan elemen “cyberpunk” adalah inovasi paling “whatever” yang pernah mereka ciptakan. Overall, sebuah lagu yang sangat random namun memiliki vibes yang uplifting ala J-Pop Culture.
EP ini ditutup dengan trek berjudul “Red Line”. Trek ini merupakan trek paling “hardcore” secara musikalitas, dengan memainkan twist modern dari riffs thrash metal/crossover ala Slayer, Bolt Thrower dengan cabikan gitar yang tanpa ampun. Sebuah trek “marah dan kejam tanpa ampun” dengan ending breakdown yang semakin menbuat hardcore kids untuk slam dancing, yang akhirnya ditutup dengan outro beat boom bap dengan sedikit oriental twist yang masih selaras dengan benang merah yang mereka bawakan.
EP “Goddess of Fire” ini menjadi langkah Sunflow untuk menyongsong album mereka yang akan menjadi target rilisan selanjutnya, sambil menggarap cover-cover JKT48 dan juga merilis single non-album baru.
(dgk)




