Sejarah manusia menunjukkan bahwa perang hampir selalu membawa kehancuran yang luas: kota-kota hancur, ekonomi lumpuh, dan masyarakat kehilangan rasa aman. Namun di balik kehancuran itu, ada satu hal yang menentukan apakah sebuah bangsa akan benar-benar runtuh atau mampu bangkit kembali. Pendidikan bukan sekadar aktivitas belajar di ruang kelas, tetapi fondasi keberlanjutan dalam suatu peradaban. Dalam situasi paling gelap sekalipun, pendidikan sering menjadi cahaya yang menuntun masyarakat menuju pemulihan.
Dalam konteks dunia hari ini, eskalasi geopolitik global semakin memperlihatkan ketegangan yang tidak bisa diabaikan. Konflik regional yang meluas, perlombaan senjata, hingga ketegangan antarnegara besar menimbulkan kekhawatiran bahwa stabilitas global tidak selalu terjamin. Laporan dari UNESCO menunjukkan bahwa konflik bersenjata masih menjadi salah satu faktor terbesar yang mengganggu akses pendidikan di berbagai negara. Bahkan sebelum perang besar terjadi, ketidakstabilan geopolitik sering kali memberikan dampak pada sistem pendidikan, anggaran dipindahkan ke sektor pertahanan, sekolah menjadi tidak aman, dan tenaga pendidik mengalami masa ketidakpastian.
Di tengah perubahan zaman, pendidikan belum dianggap penting, dan jarang diprioritaskan ketika dunia menghadapi krisis besar. Ketika ekonomi terguncang, anggaran pendidikan dipotong. Ketika konflik meningkat, sekolah menjadi bangunan yang paling mudah ditinggalkan. Padahal sejarah menunjukkan bahwa masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh kekuatan militernya, tetapi oleh bagaimana bangsa tersebut menjaga pendidikannya, bahkan di masa paling sulit. dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan meningkatnya ketegangan geopolitik. Konflik bersenjata terjadi di berbagai kawasan, dan dampaknya tidak hanya dirasakan oleh tentara atau pemerintah, tetapi juga oleh anak-anak dan sekolah. Dalam kondisi perang, pendidikan hampir selalu menjadi korban pertama.
Salah satu contoh paling nyata dapat dilihat dalam krisis kemanusiaan di Gaza Strip. Konflik yang meningkat sejak 2023 menyebabkan sistem pendidikan di wilayah tersebut hampir runtuh. Laporan UNICEF yang diterbitkan pada 4 November 2025 menyebutkan bahwa lebih dari 97% sekolah di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran, dan sekitar 658.000 anak usia sekolah kehilangan akses pembelajaran tatap muka selama lebih dari dua tahun. bahkan banyak sekolah yang tidak lagi berfungsi sebagai tempat belajar. Banyak di antaranya berubah menjadi tempat pengungsian bagi keluarga yang kehilangan rumah akibat perang. Dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipublikasikan melalui United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) dan portal UN in Palestine, disebutkan bahwa sejak konflik besar dimulai, semua sekolah di Gaza sempat ditutup sehingga tidak ada siswa yang dapat menyelesaikan tahun ajaran mereka, termasuk sekitar 39.000 siswa yang tidak dapat mengikuti ujian kelulusan nasional.
Lebih tragis lagi, data dari Inter-Agency Network for Education in Emergencies (INEE) yang dirilis pada 2025 menyebutkan bahwa lebih dari 17.000 siswa dan lebih dari 900 tenaga pendidikan dilaporkan meninggal selama konflik, sementara sebagian besar sekolah mengalami kerusakan berat. Ketika membaca data tersebut, kita tidak hanya melihat angka namun fakta yang mungkin saja akan terjadi di negara kita. Kelas tanpa siswa adalah gambaran paling menyedihkan dari runtuhnya sebuah peradaban. Situasi seperti ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi dalam sejarah manusia. Pada tahun 1945, Jepang mengalami kehancuran luar biasa setelah peristiwa Atomic bombings of Hiroshima and Nagasaki yang menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki. Infrastruktur negara hancur, ekonomi runtuh, dan masyarakat mengalami trauma mendalam. Namun dalam situasi tersebut, Kaisar Jepang Hirohito menyadari bahwa masa depan negara tidak dapat dibangun tanpa pendidikan. Dalam berbagai catatan sejarah pendidikan Jepang pasca-Perang Dunia II, pemerintah segera memprioritaskan pemulihan sekolah dan mengumpulkan kembali para guru untuk memulai kembali kegiatan belajar. Pesannya sederhana tetapi sangat kuat: jika guru masih mengajar dan anak-anak masih belajar, maka peradaban masih memiliki harapan.
Sejarah kemudian membuktikan keputusan itu benar. Dalam beberapa dekade setelah perang, Jepang berhasil membangun kembali sistem pendidikan yang kuat dan menjadi salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Dari dua gambaran sejarah tersebut yakni Jepang dan Gaza. Kita belajar dua hal yang sangat berbeda. Jepang menunjukkan bagaimana pendidikan dapat menjadi awal kebangkitan sebuah bangsa. Gaza menunjukkan bagaimana perang dapat menghentikan pendidikan hingga sebuah generasi kehilangan kesempatan belajar.
Sebagai guru, kita harus jujur melihat kemungkinan terburuk dari situasi geopolitik dunia. Bukan untuk menebar ketakutan, tetapi untuk menyadari bahwa pendidikan harus memiliki ketahanan (educational resilience). Ada beberapa langkah yang harus dipikirkan oleh dunia pendidikan jika suatu saat menghadapi krisis besar. Pertama, pendidikan harus memiliki sistem darurat. Pembelajaran tidak boleh hanya bergantung pada ruang kelas fisik. Teknologi, pembelajaran komunitas, dan sistem pendidikan fleksibel harus dipersiapkan agar proses belajar tetap berjalan dalam situasi krisis. Kedua, guru harus menjadi prioritas perlindungan. Guru adalah penjaga peradaban. Tanpa guru, tidak ada yang mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Ketiga, masyarakat harus menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama, bahkan ketika negara menghadapi tekanan ekonomi atau konflik. Pendidikan bukan sekadar sektor pembangunan karena pendidikan adalah fondasi keberlangsungan sebuah bangsa.
Tragedi yang terjadi di Gaza memberikan pelajaran yang sangat pahit bagi dunia. Ketika sekolah hancur dan siswa kehilangan kesempatan belajar, yang hilang bukan hanya bangunan atau kurikulum. Yang hilang adalah masa depan generasi. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa pendidikan adalah cara paling damai untuk mempertahankan peradaban manusia. Buku, papan tulis, dan diskusi di kelas mungkin terlihat sederhana, tetapi di sanalah nilai-nilai kemanusiaan ditanamkan. Kita harus belajar dari sejarah, ketika perang menghancurkan kota, pendidikanlah yang membangun kembali manusia. Karena itu, apa pun yang terjadi di dunia seperti krisis ekonomi, konflik geopolitik, atau bahkan perang, pendidikan tidak boleh berhenti. Jangan sampai suatu hari nanti ruang kelas kita menjadi sunyi seperti yang terjadi di banyak wilayah konflik. Selama masih ada guru yang mengajar dan siswa yang belajar, maka harapan sebuah bangsa masih hidup. Dan selama pendidikan tetap berjalan, peradaban manusia tidak akan pernah benar-benar runtuh.
Oleh :

Muslim Muhammad Aminun, S.Pd, Gr
Guru Biologi SMA Islam Sabilllah Malang Boarding School



