Pakar UMM Jelaskan Alasan Ilmiah Mengapa Baliho “Aku Harus Mati” Membahayakan Kesehatan Mental

IDEA JATIM, MALANG – Bayangkan Anda sedang melintas di tengah hiruk-pikuk kota, lalu tiba-tiba dihadapkan pada sebuah baliho raksasa bertuliskan kalimat ekstrem “Aku Harus Mati”. Bagi sebagian orang, kalimat ini mungkin sekadar strategi promosi film yang mengundang rasa penasaran. Namun, bagi kelompok rentan yang tengah berjuang dengan kesehatan mental, deretan kata tersebut layaknya belati yang bisa menjadi pemicu fatal. Menyoroti fenomena shock marketing jalanan yang kian meresahkan ini, pakar psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melayangkan teguran keras dan menyebutnya sebagai tindakan ceroboh yang membahayakan nyawa.

Dosen Psikologi UMM, May Lia Elfina, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menilai dari kacamata psikologi klinis bahwa pemasangan pesan ekstrem di ruang publik tidak bisa dibenarkan. Ia menekankan adanya perbedaan mendasar antara ruang publik dan bioskop. Bioskop adalah ruang privat di mana audiens secara sadar memilih untuk menonton, sementara ruang publik memaksa semua orang melihat tanpa bisa menghindar. Hal ini menciptakan paparan stimulus psikologis yang sama sekali tidak terkontrol.

May menjelaskan bahwa kalimat “Aku Harus Mati” yang bersifat absolut dan tanpa konteks bisa menjadi pemicu yang sangat berbahaya. Bagi individu dengan riwayat depresi, trauma, atau ide bunuh diri, pesan ini seolah memvalidasi pikiran negatif mereka. Apalagi, manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan negativity bias, di mana otak secara otomatis lebih peka menyerap informasi negatif.

“Pesan ini sangat berbahaya karena bisa memicu relapse atau serangan panik secara mendadak. Secara psikologis, manusia merespons ancaman melalui melawan, lari, diam, atau tunduk. Melihat pesan sekasar ini bisa langsung mengaktifkan amigdala dan memicu stres akut di tempat,” tegasnya 10 April lalu pada Tim Humas UMM.

Ancaman ini menjadi lebih memprihatinkan jika baliho tersebut dilihat oleh anak-anak dan remaja. Mengingat kemampuan regulasi emosi mereka yang belum matang, mereka cenderung menangkap pesan tersebut secara harfiah. Paparan seperti ini berisiko membentuk pola pikir negatif dan menormalisasi gagasan tentang kematian sebagai jalan keluar dari masalah.

Lebih lanjut, May menyoroti garis tipis antara edukasi kesehatan mental dan sekadar mencari sensasi. Edukasi yang benar seharusnya memberikan konteks, solusi, dan harapan. Sebaliknya, baliho tersebut dinilai murni mencari sensasi kejut tanpa memedulikan tanggung jawab moral.

Promosi isu mental yang provokatif tanpa mencantumkan pesan solusi atau nomor hotline bantuan berisiko tinggi memunculkan Werther effect, yakni fenomena psikologis di mana paparan tentang bunuh diri justru memicu perilaku sugesti pada orang lain.

“Mengingat kasus bunuh diri di Malang belakangan ini cukup tinggi, stimulus provokatif seperti ini bisa menjadi penguat risiko yang memperburuk kondisi psikologis masyarakat,” ungkap May memperingatkan dampak fatal dari strategi promosi tersebut.

Sebagai solusi, May mendorong industri kreatif untuk lebih bijak. Mengangkat isu kesehatan mental dalam karya film adalah hal yang sah, namun pendekatannya tidak boleh eksploitatif. Pembuat konten harus menerapkan prinsip tidak membahayakan, di mana bentuk promosi wajib dibingkai secara positif dan bertanggung jawab.

Melihat besarnya potensi dampak buruk ini, peran ahli dalam mengawasi izin reklame menjadi amat mendesak. Pemerintah daerah memegang kendali penuh untuk menyaring informasi di ruang publik demi keamanan bersama. Kolaborasi strategis dengan psikolog klinis sangat diperlukan untuk menilai tingkat risiko psikologis dari suatu desain iklan sebelum resmi ditayangkan.

“Peran pemerintah daerah sangat krusial dalam menyeleksi konten visual reklame. Pelibatan pakar psikologi kini begitu mendesak agar ruang publik kita tetap aman dan ramah mental bagi siapa saja,” pungkas May. (*)

Berita Terkini

Pererat Silaturahmi; Warga RT 5 RW 12 Puri Indah, Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu Gelar Halalbihalal Penuh Khidmat

IDEA JATIM, BATU – Semangat kekeluargaan terpancar jelas di...

Pakar Kebijakan Publik: WFH Tidak Signifikan untuk Penghematan BBM

IDEA JATIM, MALANG - Pakar Kebijakan Publik dari Fakultas...

Kronologi Pencurian Tas Berisi Rp26 Juta di Purwodadi Pasuruan, Kaca Mobil Dipecah Pakai Busi

IDEAJATIM, PASURUAN – Aksi pencurian dengan pemberatan (curat) terjadi...

Guru SMPN 13 Malang Ciptakan Aplikasi Absensi Haid Siswa, Raih Juara Inotek 2025

IDEAJATIM.ID, MALANG -Berangkat dari keresahan sederhana di ruang kelas,...
spot_img