Minggu, 1 Maret, 2026

Pakar UB Tanggapi Fenomena Knetz vs SEAbling

IDEA JATIM, MALANG – Analis Komunikasi, Universitas Brawijaya (UB), Dr. Verdy Firmantoro, S.I.Kom., M.I.Kom., menilai bahwa fenomena Knetz vs SEAbling bukan sekedar tawuran antar penggemar K-Pop. Baginya, ini adalah kontestasi identitas digital lintas negara atau disebut transnational digital identity conflict.

“Platform seperti X mempercepat polarisasi, karena algoritmanya dirancang mendorong keterlibatan yang memicu kemarahan. Jadi konflik ini bukan hanya soal budaya, tapi soal platform yang memperkuat emosi kolektif,” ujar pria berkacamata itu.

Dr. Verdy juga menjelaskan bahwa ejekan Knetz ini berhasil mempersatukan netizen Asia Tenggara yang suka ribut sendiri. Kebiasaan netizen ASEAN yang terfragmentasi seperti rivalitas ini sirna ketika hadir ancaman eksternal.

Hal Ini membuktikan bahwa dalam konteks digital, apa yang mendorong solidaritas bukan karena negara, tapi karena pengalaman sama-sama dihujat.

“Perspektif komunikasi menyebut hal ini sebagai reactive solidarity yakni pembingkaian ulang mengenai identitas regional SEAbling,” tambah Dr. Verdy.

Sementara itu, melihat dari kacamata yang berbeda, pakar antropologi UB, Franciscus Apriwan, M.A., menilai kejadian Knetz vs SEAbling sebagai suatu hal yang polanya akan sama seperti isu lainnya. Isunya akan naik, kemudian turun, dan terlupakan.

“Apa yang dilakukan pengguna ruang digital ini hanya atas dorongan dopamin. Saat muncul isu yang lebih seru, maka mereka akan berpindah tempat untuk menaruhkan komentar,” tutur Frans.

Frans memang sepakat tentang munculnya solidaritas baru warga ASEAN. Tapi, menurutnya, solidaritas ini terbentuk bukan karena kesamaan semata, melainkan karena adanya kelas menengah.

“Mereka adalah kelas menengah yang mencintai budaya K-Pop. Orang-orang yang punya kesempatan keliling ASEAN sehingga punya relasi kuat. Ketika Knetz menarasikan Asia Tenggara sebagai wilayah tertinggal, orang-orang ini ingin menunjukan kebanggan menjadi SEAbling,” jelas Franciscus.

Bagi Frans, terkadang banyak orang saat ada konflik seperti ini berharap akan menjadi besar dan perlu melakukan sesuatu, nyatanya hal ini akan redup tertutup isu lain. Namun, bagi Dr, Verdy, meskipun tidak langsung berdampak pada relasi diplomatik formal, tapi jika sentimen ini terus membesar dan opini publik meluas, maka dampaknya bisa mengganggu diplomasi publik orang ke orang (people to people relations).

Konflik Knetz vs SEAbling ini bermula dari sepetak cuitan netizen Malaysia di platform X. Netizen tersebut mengatakan ada warga Korea ke konser Day6 di Negeri Jiran yang nekat membawa kamera profesional. Padahal hal tersebut melanggar peraturan yang dibuat oleh penyelenggara.

Postingan tersebut menjadi ramai diserbu netizen Korea (Knetz). Bukan untuk meminta maaf, tapi untuk menyerang balik. Knetz tidak hanya melempar umpan kepada Malaysia, tapi menggeneralisasi Asia Tenggara untuk menghinanya sehingga hal ini menjadi pemicu kemarahan SEAbling. SEAblings merupakan gabungan dari kata Southeast Asia (Asia Tenggara) dan siblings (saudara kandung) (*)

Berita Terkini

Penerbit Erlangga Gelar Ramadan Ceria Penuh Warna di Perpusda Kota Malang, Dukung Bakat dan Kreativitas Siswa

IDEA JATIM, MALANG – Penerbit Erlangga sukses menggelar kegiatan...

UM Pacu Skor IKU 2026, Rektor Tekankan Pentingnya Validitas Data dan Peran Alumni

IDEA JATIM, MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) terus...

Operasi Pasar Ramadan 1447 H di Pasuruan Diserbu Warga, Beras SPHP Dijual Rp58 Ribu

IDEA JATIM, PASURUAN - Pemerintah Kabupaten Pasuruan menggelar Operasi...

Tinjau Progres Sekolah Rakyat Terintegrasi Wironini, Wali Kota Pasuruan Targetkan Beroperasi Juli 2026

IDEA JATIM, PASURUAN KOTA – Komitmen mengawal Program Strategis...
spot_img