IDEA JATIM, MALANG – Saya tertegun sejenak. Mendengar penjelasan Prof. Dr. H. Kasuwi Saiban, M.Ag sore itu. Di Masjid Al-Huda, Universitas Merdeka (UNMER) Malang.
Jumat (6/3) itu istimewa. Tepat 17 Ramadan 1447 H. Orang-orang menyebutnya Nuzulul Qur’an. Biasanya, acara begini isinya hanya doa. Ceramah panjang. Lalu makan bersama.
Tapi tidak di UNMER.
Di sana, agama tampil dengan wajah yang sangat manusiawi. Sangat konkret. Prof. Kasuwi, Ketua Takmir Masjid Al-Huda, punya prinsip kuat: Al-Qur’an jangan hanya jadi narasi. Harus jadi aksi.
”Kita masuk ke aplikasi,” tegasnya.
Logikanya sederhana. Al-Qur’an itu diturunkan sebagai Syifa dan Rahmah. Syifa artinya obat atau penawar. Maka, Prof. Kasuwi tidak hanya mengundang kiai untuk ceramah. Beliau mengundang petugas PMI.
Wujud Syifa-nya? Donor darah.
Lalu ada Rahmah. Artinya kasih sayang. Wujudnya? Santunan. Ada 25 anak yatim dan dhuafa yang diundang.
Wajah mereka sumringah. Masing-masing pulang membawa tas sekolah baru dan uang tunai. Totalnya Rp400.000 per anak.
Uangnya dari mana? Itulah hebatnya kolaborasi. Ada Baznas di sana. Ada Humas UNMER. Ada juga Dewan Masjid Indonesia (DMI). Semua kumpul jadi satu.
Di selasar masjid, pemandangannya kontras tapi indah. Di satu sisi ada yang sedang khusyuk mendengar ayat suci. Di sisi lain, puluhan warga antre cek kesehatan gratis. Ada yang menyingsingkan lengan baju untuk donor darah.
Agama dan kesehatan bertemu di satu titik: Masjid.
Rektor UNMER, Dr. Prihat Assih, S.E., M.Si., Ak., CSRS., ikut bangga. Baginya, kampus punya tanggung jawab moral. Tidak boleh hanya mengurusi jurnal ilmiah atau IPK mahasiswa. “UNMER harus memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Prof. Kasuwi kemudian bicara soal esensi puasa. Pelajaran tentang lapar. Katanya, kalau kita lapar, kita jadi tahu rasanya orang yang tidak bisa makan. Dari rasa lapar itulah, empati lahir.
Masjid Al-Huda kini bukan lagi sekadar bangunan untuk salat. Ia sudah bertransformasi. Menjadi pusat syiar yang adaptif.
Coba lihat kanal YouTube. Ada siaran live Tausiah Senja. Ada ceramah Tarawih. Ada Kuliah Subuh setiap Rabu dan Jumat. Semua bisa diakses dari mana saja. Sambil rebahan pun bisa dapat ilmu.
Bagi musafir atau mahasiswa yang dompetnya sedang “kritis”, masjid ini adalah oase. Takjil gratis selalu tersedia. Hangat. Mengenyangkan.
Nuzulul Quran di UNMER tahun ini membuktikan satu hal: nilai-nilai kitab suci itu paling indah jika dipraktikkan. Bukan hanya dihafalkan.
Al-Qur’an telah turun ke bumi. Dan di UNMER, ia “turun” ke nadi melalui donor darah, dan turun ke hati melalui santunan anak yatim. (*)




