IDEA JATIM, MALANG – Sabtunya istimewa. Tanggal 7 Maret lalu. Lokasinya di Masjid Al-Irfan Ma’had Sabilillah. Ratusan santri SMA Islam Sabilillah (SMAIS) Malang berkumpul di sana. Mereka tidak sekadar duduk. Mereka sedang menjemput berkah Nuzulul Qur’an.
Acaranya dimulai selepas Tarawih. Suasananya syahdu. Tapi energinya luar biasa.
Malam itu bukan sekadar ceramah. Ada prosesi penting: Sambung Sanad. Kitabnya Bidayatul Hidayah. Pengajarnya bukan sembarang orang. Ada KH. Marzuqi Mustamar di sana. Tokoh kharismatik.
Bagi santri, sambung sanad itu harga mati. Itu bukti bahwa ilmu mereka punya silsilah. Jelas gurunya. Jelas sumbernya. Sampai ke penulis kitabnya.
Siti Aisyah, S.Ag Penanggung Jawab Kegiatan, terlihat semringah. Ia punya misi besar. Tema tahun ini: Ramadan Mubarak, Sabilillah Penuh Cinta.
”Al-Qur’an itu bukan sekadar pajangan,” ujar Aisyah. Saya menangkap semangatnya. Baginya, Al-Qur’an adalah kompas. Petunjuk operasional. Biar selamat di dunia, juga bahagia di akhirat.
Di SMAIS, Al-Qur’an tidak hanya dibaca saat Ramadan. Sudah jadi menu harian. Masuk kurikulum inti. Santri dikelompokkan. Ada kelas Tartil bagi yang ingin suaranya merdu dan tepat. Ada kelas Terjemah bagi yang haus makna. Ada pula kelas Tahfidz bagi para penjaga hafalan.
Ritualnya ketat. Ba’da Magrib dan ba’da Subuh wajib murajaah. Wajib tadarus. Tiada hari tanpa ayat.
Tapi Ramadan kali ini ada yang beda. Ada inovasi. Namanya unik: Tarling dan Darling.
Bukan, ini bukan soal transportasi. Tarling itu Tarawih Keliling. Darling itu Tadarus Keliling. Santri tidak boleh hanya asyik di dalam asrama. Mereka harus keluar. Menyapa tetangga. Masuk ke masyarakat.
”Penting ada keseimbangan,” kata Aisyah lagi. Istilahnya Hablum Minallah dan Hablum Minannas. Hubungan dengan Tuhan oke, hubungan dengan manusia harus mantap. Santri harus sadar, suatu saat mereka akan menyatu dengan masyarakat. Latihannya ya sekarang ini.
Aisyah juga punya pesan untuk generasi TikTok dan Instagram. Generasi yang jempolnya lebih cepat dari pikirannya.
Pesan pertama: Jadikan Al-Qur’an rujukan langkah. Jangan asal scroll.
Kedua: Curi waktu. Di sela kesibukan digital yang gila-gilaan itu, sempatkan baca Al-Qur’an. Biar berkah.
Ketiga: Pakai nalar ilmiah. Al-Qur’an itu gudang ilmu. Jangan lelah mengkaji.
Malam itu, di Masjid Al-Irfan Ma’had Sabilillah, Al-Qur’an tidak terasa kaku. Ia terasa hidup. Menjadi napas bagi para santri yang sedang tumbuh.
Itulah Sabilillah. Penuh cinta. Penuh makna. (*)




