IDEA JATIM, MALANG – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Kota Malang (Mindatama ) mencatatkan pencapaian signifikan dalam proses Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) tahun ini. Di bawah kepemimpinan Nanang Sukmawan, S.Pd., M.Pd.I., madrasah ini semakin diminati masyarakat. Pendaftar jalur prestasi Mindatama melonjak drastis.
Antusiasme masyarakat untuk menyekolahkan anak di MIN 2 Kota Malang melalui jalur prestasi meningkat tajam hingga hampir 100% dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tahun lalu hanya ada 28 pendaftar, tahun ini tercatat sebanyak 46 pendaftar yang bersaing ketat.
”Alhamdulillah, kemampuan anak-anak yang mendaftar betul-betul menguasai bidangnya, mulai dari akademik, non-akademik, seni, hingga olahraga. Dari 46 pendaftar, sebanyak 31 anak atau sekitar 76% berhasil kami terima,” ujar Nanang Sukmawan dengan bangga.
Peningkatan kualitas ini merupakan bagian dari rencana strategis madrasah yang kini memasuki tahun ketiga. Setelah fokus pada pembangunan fisik dan mutu SDM di tahun-tahun sebelumnya, kini MIN 2 Kota Malang memprioritaskan prestasi siswa.
Salah satu program unggulan yang disiapkan adalah pengelolaan khusus bagi siswa kelas 1 yang sudah memiliki hafalan juz 30. “Harapannya, anak-anak ini nanti saat lulus bisa khatam 30 juz. Kami siap bersaing dengan madrasah lain, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya.
Hal yang paling menarik dari PPDB tahun ini adalah dibukanya Kelas Inklusi untuk pertama kalinya. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen menjalankan amanah Kementerian Agama agar madrasah tidak menolak siswa berkebutuhan khusus (SBK).
Nanang menjelaskan bahwa pihaknya ingin seluruh anak bangsa memiliki hak yang sama dalam pendidikan. Uniknya, siswa inklusi tidak dipisahkan, melainkan berbaur di kelas reguler agar mereka tidak merasa minder dan siswa lain dapat belajar empati melalui Kurikulum Berbasis Pancasila Cinta (KBPC).
Untuk menjaga kualitas belajar, setiap kelas inklusi akan didampingi oleh dua guru sekaligus. Guru Reguler untuk materi umum dan Guru Pendamping Khusus (GPK) yang memiliki latar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB) dan telah terlatih secara profesional.
”Kami terus berbenah dan melakukan studi banding, salah satunya ke MI Ar-Roihan Lawang, untuk memastikan program inklusi ini berjalan maksimal. Kami ingin MIN 2 Kota Malang menjadi madrasah yang benar-benar ramah anak dan terbuka bagi siapa saja,” pungkas Nanang. (*)




