IDEA JATIM, MALANG – Rabu (4/3) lalu, Jalan Bandung di Kota Malang mendadak hijau. Bukan karena pepohonan yang makin rimbun. Tapi karena ratusan pengemudi ojek daring (ojol) yang mengular. Panjang sekali.
Mereka tidak sedang demo. Tidak pula sedang berebut orderan makanan. Mereka sedang antre “Paket Cinta”.

Itulah pemandangan di MTsN 1 Kota Malang. Orang lebih akrab menyebutnya: Matsanewa. Riuh, tapi tertibnya luar biasa. Nama acaranya pun puitis: Matsanewa Berbagi.
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Pendma) Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, Dr. Sugiyo, M.Pd, sampai turun gunung. Dia bangga. Katanya, ini baru namanya pendidikan karakter yang konkret.
Madrasah bukan cuma tempat mengejar deretan angka di atas kertas rapor. Tapi tempat mengasah empati. Menjadi kawah candradimuka bagi kesalehan sosial.
Yang menarik adalah “mesin” di baliknya. Ada sinergi hebat di sana. Antara sekolah, siswa, dan orang tua. Mereka punya wadah khusus: Parent of Class Organization (POCO). Inilah kunci gerakannya.
Kepala MTsN 1 Kota Malang, Dra. Erni Qomaria Rida, M.Pd tampak sumringah. Semangatnya meluap. Beliau menegaskan bahwa keterlibatan orang tua adalah nyawa dari acara ini.
”Kami ingin anak-anak merasakan langsung indahnya berbagi. Melihat realitas sosial di sekitar mereka,” ungkap Bu Erni. Baginya, ini bukan sekadar bagi-bagi sembako. Ini adalah instrumen untuk mengetuk hati siswa.
Sebenarnya, semangat ini sudah “pecah” sejak Senin lalu. Waktu itu giliran siswa kelas 7 dan POCO kelas 7 yang mengambil panggung.
Bayangkan suasananya: Tepat pukul 15.30 WIB. Sesaat setelah selawat bergema usai salat Asar berjamaah, keceriaan pecah di gerbang madrasah. Para siswa dengan sigap membagikan paket sembako dan ratusan paket takjil.
Arus lalu lintas di Jalan Bandung memang padat. Tapi kegiatan tetap rapi. Panitia menggunakan sistem kupon. Cerdas.
Koordinator kegiatan, Ira Kristina, menyebut kehadiran orang tua di sekolah memberikan energi positif yang luar biasa. “Ini bukan tren sesaat. Ini tradisi tahunan yang terus kami rawat sebagai jembatan kemanusiaan,” tuturnya.
Sore itu, para driver ojol pulang dengan senyum lebar. Mereka membawa pulang beras dan minyak. Tapi lebih dari itu, mereka membawa pulang rasa hangat: bahwa di sekolah hebat ini, mereka sangat dihargai sebagai manusia.
Matsanewa sukses membuktikan: pendidikan karakter yang paling ampuh adalah kolaborasi yang harmonis. Antara guru, murid, dan orang tua. (*)



