IDEA JATIM, MALANG – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) angkatan 2023 Ibnus Shabil, kembali menunjukkan produktivitasnya di bidang literasi dengan menerbitkan buku keempat yang berjudul Kismat.
Buku Kiamat sendiri merupakan sebuah karya sastra reflektif yang memadukan puisi, cerpen, beserta narasi perenungan diri yang secara resmi dirilis pada Sabtu, (14/2) lalu melalui RO Publishing.
Sebelumnya, Ibnus telah menerbitkan tiga buku, yaitu, Penyamun Kata di Kastil Malam, Sweet Seventeen, dan Tentang Kita.
Hal tersebut disampaikan Ibnus saat menjelaskan latar belakang pemilihan judul bukunya. Selasa, (24/2). Ia menyampaikan,
buku Kismat lahir dari gagasan mengenai takdir yang tidak semata-mata dipahami sebagai nasib baik ataupun buruk, melainkan sebagai rangkaian pengalaman, persinggahan hidup, serta dinamika batin yang membentuk identitas seseorang dalam proses pencarian makna kehidupan yang lebih mendalam.
“Untuk kata kismat ini sebenarnya kiasan, dari sebuah takdir, di mana saya menggambarkan bahwa takdir bukan hanya terkait takdir buruk atau takdir baik dalam perjalanan kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bahwa keseluruhan isi buku tersebut merupakan representasi dari pengalaman personal yang ia alami selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus individu yang tengah bertumbuh, sehingga setiap tulisan di dalamnya tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga menjadi ruang kontemplasi dan pengakuan diri.
“Segala hal yang saya alami selama saya membuat karya, itu saya kiasan dalam kata kismat, entah itu puisi, cerpen, maupun refleksi tentang hidup,” jelasnya.
Melalui Kismat, Ibnus berharap buku tersebut dapat menjadi ruang bagi para pembaca, khususnya kalangan remaja hingga dewasa, yang mungkin merasa kehilangan arah, kurang dihargai, atau masih berjuang menemukan jati dirinya di tengah tuntutan kehidupan.
“Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya, jadi jangan merasa tertinggal hanya karena waktu kita berbeda dengan orang lain,” ucapnya.
Baginya, menerbitkan buku bukan sekadar upaya komersial ataupun pencapaian simbolik, melainkan bentuk ikhtiar untuk mengabadikan gagasan dan memperpanjang jejak eksistensi melalui tulisan yang dapat terus dibaca bahkan ketika dirinya tidak lagi hadir secara fisik.
“Sejujurnya saya tidak ingin menjual buku ini secara umum, karena tujuan utama saya adalah memanjangkan umur saya lewat karya, agar ketika saya sudah tidak ada, nama saya masih hidup dalam tulisan,” ujarnya. (*)




