IDEA JATIM, MALANG – Di tengah polemik kendala distribusi dan risiko keamanan pangan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), Muhammad Daffa Azmi hadir membawa angin segar. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berhasil mengembangkan NutriTrack MBG, sebuah aplikasi pemantau kualitas makanan yang sukses menyabet tiga penghargaan di ajang International Youth Innovation Summit #20 Chapter Malaysia–Singapore.
Daffa menjelaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan respons atas realita kegagalan teknis yang sempat mewarnai program MBG di tanah air. Ia merasa perlu ada sistem yang mampu memitigasi risiko kesehatan bagi anak-anak sekolah.
”Program MBG ini adalah langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Tapi faktanya di lapangan masih ada beberapa kasus seperti keracunan, keterlambatan distribusi, sampai makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” tegas pemuda asal Banjarbaru tersebut saat menjelaskan latar belakang idenya.
Aplikasi NutriTrack dirancang untuk memutus rantai ketidakpastian tersebut. Melalui sistem ini, transparansi gizi dan ketepatan waktu pengiriman dipantau secara ketat. Daffa menekankan bahwa transparansi adalah kunci agar orang tua dan pengelola program tidak lagi merasa waswas terhadap apa yang dikonsumsi siswa.
”Melalui fitur transparansi gizi, pengguna dapat mengetahui secara pasti kandungan nutrisi dari makanan yang diterima, termasuk rincian jumlah kalori dan protein,” tambah Daffa. Ia juga menjelaskan bahwa sistem real-time dalam aplikasinya mampu melacak jam keberangkatan pengiriman hingga tenggat waktu sampai, guna memastikan makanan tidak basi di jalan.
Perjuangan Daffa dan timnya berbuah manis dengan membawa pulang gelar First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Bagi Daffa, momen ini adalah titik balik dalam perjalanan akademiknya karena ia harus bersaing merumuskan solusi atas persoalan global yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
”Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” tuturnya dengan nada bangga.
Menutup keterangannya, Daffa berharap inovasi ini bisa menjadi inspirasi bagi rekan sejawatnya untuk lebih peduli terhadap isu sosial dan berani mengambil langkah nyata. Menurutnya, kegagalan terbesar adalah ketika seseorang takut untuk memulai sebuah gagasan besar.
”Kita tidak boleh takut mencoba hal baru. Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar,” pungkas Daffa. (*)




