Kamis, 5 Februari, 2026

Kendalikan Dunia dari Skala Nano, Prof. Poppy Puspitasari Fokus pada Rekayasa Antarmuka untuk Efisiensi Industri

​IDEA JATIM, MALANG – Gelaran pengukuhan Guru Besar di Universitas Negeri Malang kembali menghadirkan pemikiran revolusioner di bidang teknologi. Prof. Ir. Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Rekayasa Nanomaterial dengan membawa orasi ilmiah bertajuk “Size Does Matter: Merancang Fungsi Material dari Skala Nano”.

​Dalam pidatonya, Prof. Poppy menegaskan bahwa dalam dunia material, ukuran bukan sekadar angka, melainkan penentu fungsi. Ketika material direkayasa hingga skala nano (sepersejuta milimeter), terjadi pergeseran mekanisme yang luar biasa.
​”Ukuran mengubah segalanya. Saat struktur material diperkecil hingga skala nano, luas permukaannya meningkat tajam. Hal ini membuat interaksi di permukaan material menjadi faktor penentu performa yang jauh lebih kuat dibanding material berukuran biasa,” jelas Prof. Poppy.

​Empat Pilar Inovasi di Skala Nano

​Prof. Poppy memetakan kontribusi ilmiahnya ke dalam empat ranah utama yang menjadi pusat kendali fungsi material modern:

​1. Nanokatalis (Jembatan Energi): Bukan sekadar menambah logam, Prof. Poppy merancang situs aktif pada tingkat antarmuka untuk meningkatkan efisiensi produksi amonia hijau sebagai pembawa energi strategis. Inovasi ini juga menyasar sektor otomotif melalui retrofit katalis untuk menurunkan emisi kendaraan secara stabil pada kondisi jalanan yang macet (stop-and-go).

​2. Nano-Reinforced Materials (Kekuatan dari Dalam):
Dalam memperkuat material, kuncinya bukan hanya pada bahan penguat, tetapi bagaimana bahan tersebut tersebar merata. Melalui studi sistem Al-Si (Aluminium-Silikon), beliau membuktikan bahwa penggunaan serbuk nano (nanopowder) mampu meningkatkan ketangguhan dan kekerasan material secara signifikan selama aglomerasi atau penggumpalan dapat dihindari.

3. ​Nanolubricant (Pelumas Masa Depan):
Prof. Poppy mematahkan anggapan bahwa “lebih banyak aditif lebih baik”. Dalam dunia pelumas nano, konsentrasi yang berlebihan justru bisa merusak. Desain pelumas berbasis bio-oil miliknya terbukti mampu mereduksi keausan mesin secara signifikan, sekaligus mendukung prinsip manufaktur hijau yang ramah lingkungan.

4. ​Nanofluids (Optimalisasi Panas):
Pada sistem pendingin atau perpindahan panas, Prof. Poppy mengintegrasikan nanopartikel ke dalam fluida dasar. Hasilnya adalah efisiensi termal yang lebih tinggi, yang sangat krusial untuk perangkat penukar panas (heat exchanger) di industri energi.

​Masa Depan Industri Hijau

​Menutup orasi ilmiahnya, Prof. Poppy menyimpulkan bahwa rekayasa nanomaterial yang matang adalah kunci untuk menjawab tantangan industri modern: efisiensi energi dan penurunan emisi.
​”Fungsi itu lahir dari antarmuka. Antarmuka hanya bekerja bila stabil, dan stabilitas hanya bermakna bila mampu meningkatkan kinerja sistem secara terukur,” pungkasnya.

​Dengan pengukuhan ini, Prof. Poppy Puspitasari berharap riset di skala nano dapat terus memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan industri dan lingkungan di Indonesia. (*)

Berita Terkini

Tahan Imbang PS Mojokerto Putra; Heli Suyanto Apresiasi Performa Persikoba Kota Batu

IDEA JATIM, PASURUAN – Wakil Wali Kota Batu, Heli...

Hadiri Rakornas 2026; Forkopimda Kota Batu Akan Wujudkan Percepatan Program Prioritas Nasional

IDEA JATIM, BOGOR – Wali Kota Batu, Nurochman, bersama...

Bunda PAUD Pasuruan Dorong Wajib Belajar 13 Tahun, Tekankan Pentingnya PAUD Berkualitas Sejak Dini

IDEA JATIM, KABUPATEN PASURUAN  — Bunda Pendidikan Anak Usia...

SMKN 2 Singosari Sukses Gelar EduFest & EduFair, Berikan Peluang Potensi Siswa

IDEA JATIM, MALANG - SMKN 2 Singosari terus memperkuat...
spot_img