IDEA JATIM, MALANG – Ramadan itu harus bahagia. Tidak boleh membosankan. Apalagi bagi anak-anak usia dini.

​Itulah yang ditangkap oleh TK Islam Sabilillah Malang 2. Mereka punya mantra baru: Happy Ramadan.
Taglinenya pun keren: “Ramadan Mubarak Penuh Cinta”.
​Selasa lalu, 5 Maret, suasana sekolah itu beda. Tidak ada guru yang berdiri di depan kelas seperti biasanya. Orang tua mengambil alih.
​Programnya dinamakan Teacher Guide.
​Sekolah menyusun materinya, orang tua yang mengeksekusinya. Tentu dengan gaya “emak-emak” atau “bapak-bapak” yang lebih cair.
Improvisasi. Agar materi ibadah yang berat jadi renyah di telinga bocah.
​”Keluarga adalah pendidikan pertama dan utama,” ujar Nurul Chotimah, S.Pd.I Kepala TK Islam Sabilillah Malang 2. Di sana, beliau akrab disapa Teacher Uyun. Beliau ingin sinergi itu nyata. Bukan sekadar slogan di brosur pendaftaran.
​Selagi anak-anak asyik dengan “guru baru” mereka, para orang tua tidak lantas ngerumpi di parkiran. Mereka masuk kelas juga. Namanya sesi Parenting.
​Pembicaranya serius: Efi Hidayatiningsih, S.E, Trainer BNS dan Promotor STIFIn. Materinya tentang Luqman Al-Hakim. Intinya satu: bagaimana mendidik anak agar cinta ibadah tanpa merasa dipaksa. Tanpa drama.
​Menjelang magrib, keseruan geser ke jalanan.
​Ada 76 siswa yang turun. Kecil-kecil tapi tangguh. Mereka membawa 250 paket takjil. Satu anak minimal tenteng tiga paket.
​Tujuannya? Melatih empati. Agar mereka tahu, di luar sana ada orang yang perlu disapa dengan sepotong kue atau segelas es buah.
​Dulu, kegiatan begini sering bikin macet. Sekarang tidak. Panitia sudah pintar. Ada pembagian zona. Rapi. Tidak ada penumpukan massa.
​Puncaknya adalah buka puasa bersama. Ini yang istimewa. Ini kali pertama TK Islam Sabilillah Malang 2 bisa kumpul lengkap. Guru, wali murid, dan siswa duduk melingkar.
​Adinda Rizki Amelia, salah satu orang tua siswa, tampak sumringah. Baginya, kegiatan ini jauh dari kata merepotkan. Justru ini penyelamat.
​”Daripada anak-anak main HP terus di rumah,” katanya.
​Benar juga. Di sini mereka belajar emosi. Belajar sabar. Belajar berbagi.
​Ramadan di Sekolah Sabilillah bukan hanya soal menahan lapar. Tapi soal bagaimana menghidupkan hati. Lewat kolaborasi yang tulus, mereka sedang membangun fondasi karakter yang kokoh.
​Itulah esensi Happy Ramadan. Melelahkan, tapi membahagiakan. Karena Sabilillah, penuh cinta! (*)




