IDEA JATIM, MALANG – MAN 2 Kota Malang punya cara sendiri merayakan Idulfitri. Bukan sekadar makan-makan. Bukan sekadar salaman. Tapi membangun fondasi besar: menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
Minggu kemarin, Aula Utama Madrasah itu penuh. Hangat. Ada guru. Ada pegawai. Ada pensiunan. Ada pula pengurus komite. Semua melebur.
H. Achmad Shampton hadir di sana. Kepala Kemenag Kota Malang. Orang lebih akrab memanggilnya Gus Shampton. Gayanya santai, tapi pesannya tajam.
Gus Shampton bicara soal kerukunan. Baginya, rukun itu bukan cuma soal tidak bertengkar. Rukun itu energi. Rukun itu bahan bakar pelayanan.
”Kebersamaan dan kerukunan harus terus kita jaga,” ujar Gus Shampton. Kalimatnya pendek. Tegas.
Dia sadar betul. Memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat itu berat. Tidak bisa sendirian. Perlu sinergi. Apalagi MAN 2 sedang mengejar predikat WBBM. Itu kasta tertinggi dalam birokrasi yang melayani.
”Untuk mencapai WBBM, perlu kekompakan. Semua harus satu tujuan,” tambahnya.
Suasana makin berbobot saat Prof. Dr. Zainudin naik panggung. Dia Tim Ahli Komite. Profesor satu ini punya perspektif menarik soal kemanusiaan.
Di mata Prof. Zainudin, Indonesia itu luar biasa. Umat Muslimnya tidak kenal krisis kemanusiaan. Kenapa? Karena budayanya kuat. Ada majelis dzikir. Ada istighosah. Ada tradisi berbagi.
”Budaya Islami kita adalah bukti kepedulian masih terjaga,” kata Prof. Zainudin.
Dia lalu membandingkan dengan pengalamannya di Eropa. Pernah ke Belanda. Juga negara lain. Di sana, kulturnya beda. Individualis.
”Jangan sampai kita seperti di Eropa. Ada yang meninggal, tidak banyak yang peduli. Beda dengan kita yang penuh empati dan saling mendoakan,” tuturnya.
Bagi Prof. Zainudin, madrasah harus jadi benteng. Pusat tumbuhnya karakter. Lewat dzikir dan istighosah, siswa tidak cuma jadi pintar secara otak. Tapi peka secara hati.
”Madrasah harus jadi pusat budaya Islami. Lahirkan generasi cerdas yang punya kepekaan sosial,” harapnya.
Halal bihalal itu akhirnya bukan sekadar ajang maaf-maafan. Itu adalah ajang konsolidasi hati. Antara mengejar prestasi birokrasi dan menjaga akar spiritualitas.
Di MAN 2 Kota Malang, keduanya coba dijalankan beriringan. Rukun di dalam, hebat di pelayanan. (*)




