IDEA JATIM, MALANG – Sederhana saja: 6.000 paket. Itulah jumlah takjil yang dikumpulkan anak-anak MIN 1 Kota Malang. Angka yang fantastis untuk sebuah madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar. Tapi bukan jumlahnya yang membuat saya tertegun. Melainkan ke mana takjil itu pergi.
Tahun ini, mereka tidak hanya mencegat motor di pinggir Jalan Bandung yang prestisius itu. Mereka melirik yang lebih jauh: bus Trans Jatim.
Bayangkan. Sopir bus yang sedang mengejar jadwal. Pramugara yang sibuk melayani. Atau penumpang yang terjebak di tengah kemacetan saat azan Magrib berkumandang.
Mereka tidak bisa mampir ke warung begitu saja. Di situlah anak-anak ini hadir. Di halte. Memberi seteguk air dan sebungkus doa dalam bentuk makanan. ”Kami menyasar mereka yang tidak bisa berhenti sembarangan,” ujar Imam Ghozali, sang ketua panitia. Cerdas. Itulah empati yang konkret.
Bukan hanya takjil. Urusan zakat fitrah pun dikelola dengan serius. Partisipasinya gila-gilaan: 96 persen! Sebanyak 1.855 siswa menenteng beras 3 kg. Totalnya berton-ton.
Tapi, cara membagikannya yang bikin saya angkat topi. Tidak ada antrean mengular yang merendahkan martabat manusia. Mereka melakukannya dengan “senyap”. Berbasis data.
Wali kelas dan paguyuban orang tua bergerak jadi intelijen kebaikan. Mencari siapa yang benar-benar butuh di sekitar sekolah. Tujuannya satu: tepat sasaran tapi tidak menyinggung perasaan. Itulah adab.
Di madrasah ini, ibadah bukan sekadar angka di atas kertas. Ada buku “Sahabat Ramadanku”. Isinya? Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Anak-anak dipantau: salatnya, tarawihnya, bahkan makannya. Mereka diajak mempraktikkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Ramadan di MIN 1 bukan soal menahan lapar saja. Ini soal melatih otot kepedulian. Agar saat dewasa nanti, mereka tidak hanya pintar matematika, tapi juga pintar merasakan kesusahan orang lain.
Gempita ini akan ditutup dengan Halal Bihalal. Sebuah puncak silaturahmi. Tapi bagi saya, puncaknya sudah terjadi di halte Trans Jatim itu. Saat seorang sopir bus tersenyum menerima sebungkus takjil dari tangan mungil seorang siswa.
Itulah kemenangan yang sebenarnya. (*)




