IDEA JATIM, MALANG – Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) melalui Departemen Budidaya Pertanian resmi meluncurkan Kelompok Kajian Durian dalam sebuah forum Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peluang Durian Nusantara Menjadi Primadona Komoditas Strategis Nasional”. Kegiatan yang digelar di Gedung Sentral FP UB ini bertujuan memperkuat riset dan kolaborasi demi mendorong durian Indonesia bersaing di pasar global.
Dekan FP UB, Prof. Mangku Purnomo, menekankan perlunya perubahan paradigma besar-besaran dalam sektor hortikultura. Menurutnya, selama ini pengembangan durian di Indonesia masih terjebak sebagai “komoditas hobi”, bukan sistem industri yang terintegrasi.
“Kita punya potensi besar, namun menjadikannya industri adalah tantangan nyata. Pertanian harus bergerak menuju bioindustri dengan dukungan riset dan teknologi. Kita tidak boleh berhenti di level hobi; kita harus berpikir tentang industri dan pasar dunia,” tegas Prof. Mangku dalam sambutannya.
Ia menyoroti bahwa keberhasilan komoditas seperti durian atau anggur di Indonesia selama ini lebih banyak digerakkan oleh komunitas pecinta (hobbiis) secara sporadis, bukan melalui desain kebijakan industri berbasis riset jangka panjang. Hal ini berbeda dengan Thailand atau Malaysia yang memiliki kesinambungan riset hingga puluhan tahun untuk menghasilkan varietas unggulan seperti Musang King (D197).
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, FP UB kini mendorong pemanfaatan teknologi modern seperti pemetaan genetik dan penyuntingan gen (gene editing). “Cara konvensional memakan waktu terlalu lama. Dengan peralatan lengkap di Brawijaya, kami mendorong percepatan varietas unggul melalui pendekatan bioteknologi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prof. Mangku menantang para pemangku kepentingan untuk berani berpikir dalam skala besar. Ia memimpikan pengelolaan kebun durian yang mencapai 500 ribu hingga 1 juta hektare di bawah satu manajemen profesional, serupa dengan keberhasilan sektor sawit.
Senada dengan hal tersebut, pakar durian Dr. Ir. Mohammad Reza Tirtawinata, M.S., memberikan arahan teknis mengenai pentingnya budidaya berbasis habitat asli. Ia menyarankan agar setiap daerah memilih varietas lokal terbaik untuk dikembangkan di wilayah yang paling sesuai secara ekologis. “Penting juga melakukan grading kualitas buah sesuai segmen pasar. Mengingat durian sangat sensitif terhadap perubahan iklim, riset berkelanjutan menjadi kunci,” ujar Dr. Reza.
Peresmian Kelompok Kajian Durian ini diharapkan menjadi jembatan antara akademisi, praktisi, dan industri. Dengan kolaborasi yang kuat, FP UB berkomitmen menjadikan durian Nusantara sebagai komoditas strategis yang mampu menentukan harga di pasar internasional. (*)



