Selasa, 24 Februari, 2026

Duck Syndrome, Saat Hidup Terasa Baik-Baik Saja

Nissa Melinda, S.Psi

Guru BK SD Islam Sabilillah Malang 1

Di dunia kerja modern, banyak orang dewasa hidup dalam sebuah paradoks: terlihat profesional, produktif, bahkan sukses, namun diam-diam merasa kosong, lelah, dan kehilangan arah. Fenomena ini sering disebut Duck Syndrome, seperti bebek yang tampak tenang mengapung di permukaan air, padahal kakinya mengayuh keras di bawah. Pada orang dewasa, kondisi ini sering muncul dalam konteks dunia kerja dimana seseorang dituntut untuk profesional secara performa, tetapi rapuh secara regulasi emosional.

Istilah ini dipopulerkan pertama kali di lingkungan Stanford University untuk menggambarkan mahasiswanya yang terlihat tampak tenang di permukaan, padahal secara internal mereka sedang berjuang keras. Dari sinilah terminology duck syndrome diperluas untuk menjelaskan masalah-masalah sosial dan kehidupan pribadi yang dicapai dengan berdarah-darah dan dipendam sendirian. Kini, duck syndrome tidak lagi milik mahasiswa berprestasi semata, tetapi menjadi potret banyak orang dewasa di dunia kerja modern.

Duck Syndrome bukan sekadar soal kelelahan biasa. Ia adalah potret kehidupan dewasa yang dipenuhi tuntutan: target pekerjaan, tanggung jawab keluarga, tekanan ekonomi, hingga ekspektasi sosial untuk selalu “kuat”. Kita belajar tersenyum saat rapat, tetap responsif di grup whatsapp kantor, dan menyelesaikan tugas tepat waktu meski di dalam diri ada kegelisahan yang tak pernah benar-benar reda.

Duck Syndrome mengingatkan kita bahwa penampilan luar tidak selalu mencerminkan kondisi batin. Di balik seragam rapi dan laporan yang selesai tepat waktu, bisa saja ada sistem saraf yang kewalahan. Pakar Psikologi UNAIR, Margaretha Rehulina, S.Psi., G.Dip.Psych., M.Sc., menyebut ada tiga jenis duck syndrome yang sering dialami oleh seseorang. Yang pertama adalah struggle alone, pada jenis ini seseorang ingin terlihat baik-baik saja, padahal mereka sedang menghadapi banyak masalah. Yang kedua adalah berpura-pura sukses, sindrom ini sering dialami oleh orang-orang yang berusaha tampil glamor dan sukses di media sosial meskipun sebenarnya tidak demikian. Yang ketiga adalah membandingkan diri dengan orang lain, jenis ini terjadi pada orang-orang yang sering merasa minder karena kesuksesan orang lain.

Dalam perspektif psikologi dan neurosains, kondisi ini sangat berkaitan dengan sistem saraf. Ketika seseorang terus hidup dalam mode “survival”, tubuh berada terlalu lama dalam keadaan fight or flight yang ditandai peningkatan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Ketika hormon stres meningkat, maka otak akan sulit masuk fase istirahat dan sistem pencernaan juga ikut terdampak. Hal ini mengakibatkan tubuh kehilangan kemampuan kembali ke mode parasimpatis (rest and digest). Tidak heran jika banyak pekerja produktif justru mengalami gejala psikosomatis seperti GERD, nyeri kepala, gangguan tidur, atau kelelahan kronis (Vinchou et al., 2025)

Burnout sering datang diam-diam. Pekerjaan yang dulu bermakna, kini terasa mekanis. Hari-hari berjalan seperti autopilot. Sehingga, yang terjadi bukanlah burnout biasa, melainkan cognitive-emotional overload. Akhirnya, otak bagian prefrontal cortex yang berfungsi untuk pengambilan keputusan dan kontrol emosi mengalami penurunan kapasitas, sementara amigdala yang berfungsi sebagai detektor ancaman menjadi lebih reaktif. Individu menjadi mudah cemas, iritabel, kehilangan motivasi, dan muncul perasaan “hampa”.

Pada sebagian orang, kondisi ini diperparah oleh luka relasi masa lalu, seperti abandonment trauma. Trauma ini terbentuk ketika kebutuhan dasar akan kelekatan aman (secure attachment) tidak terpenuhi. Adanya pengalaman merasa ditinggalkan, tidak cukup berharga, atau harus berjuang sendiri sejak kecil. Tanpa disadari, luka ini membentuk pola hidup selalu ingin membuktikan diri, sulit meminta bantuan, dan merasa bersalah saat beristirahat. Produktivitas menjadi cara bertahan hidup, bukan lagi pilihan sehat.

Untuk mengatasi kelelahan kognitif yang menumpuk, banyak orang mencari pelarian cepat, yaitu bekerja sampai kelelahan total, men-scroll gadget tanpa henti, atau mendorong tubuh beraktivitas fisik secara berlebihan hanya agar bisa tidur. Padahal, kelelahan yang dialami bukan semata kelelahan otot, melainkan kelelahan neurologis dimana otak terlalu lama memproses stres tanpa jeda pemulihan emosional.

Masalahnya, budaya kita sering memuji daya tahan, bukan kesadaran diri. Kita mengagungkan kesibukan, bukan keseimbangan. Kita lebih mudah berkata “aku baik-baik saja” daripada mengakui bahwa kita sedang tidak baik. Ditambah kekhawatiran atas persepsi orang lain yang terlanjur menganggap kita sebagai orang yang berprestasi dan sukses, sehingga memunculkan ketakutan diremehkan jika tidak lagi meraih suatu pencapaian.

Di sinilah konsep tangki cinta menjadi relevan. Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan rasa aman, diterima, dan dicintai. Tangki ini bisa terisi lewat hubungan yang hangat, percakapan yang jujur, sentuhan empati, serta kemampuan menerima diri sendiri. Ketika tangki cinta kosong, tubuh akan mencari kompensasi lewat kerja berlebihan, perfeksionisme, atau pencapaian eksternal.

Ketenangan sejati tidak lahir dari mode survival terus-menerus. Ia muncul ketika kita berhenti sejenak, mendengarkan tubuh, dan memberi ruang pada emosi. Saat kita berani berkata, “Aku lelah,” tanpa merasa gagal. Saat kita memilih istirahat bukan sebagai kemewahan, tetapi sebagai kebutuhan biologis. Dan saat kita merasa cukup aman untuk berhenti berlari.

Meskipun Duck Syndrome bukan merupakan diagnosis klinis dalam klasifikasi gangguan mental, kondisi ini tetap layak mendapat perhatian serius. Janganlah ragu untuk mencari bantuan profesional jika kamu mengalami tanda-tanda duck syndrome. Mulai belajar untuk mencintai diri sendiri, kenali kapasitas diri, dan jangan pernah terpaku pada ekspektasi orang lain yang tidak akan ada habisnya merupakan langkah awal untuk memulihkan hubungan dengan diri sendiri.

Mungkin sudah waktunya kita mengubah definisi kuat. Bukan lagi tentang siapa yang paling tahan tekanan, tetapi siapa yang paling mampu merawat dirinya sendiri. Mengisi tangki cinta, membangun relasi yang aman, dan memberi jeda pada hidup agar ketenangan hadir bukan sebagai mode bertahan, melainkan sebagai cara untuk hidup.

Berita Terkini

Debut Gemilang di Premier League Pool; AlbertJanuarta Tembus Semifinal di Usia 18 Tahun

IDEA JATIM - Albert “The Giant Killer” Januarta kembali...

Cuaca Ekstrem Terjang Junrejo, Atap Rumah Warga di Kota Batu Ambruk

IDEA JATIM, BATU – Cuaca ekstrem berupa hujan deras...

Rayakan Budaya & Prestasi, Inaugurasi Universitas Ma Chung 2026 Tampil Memukau dengan “Romansa Nusantara”

IDEA JATIM, ​MALANG – Universitas Ma Chung sukses menggelar...
spot_img