IDEA JATIM, MALANG – Dia masih kecil. Kelas 3 SD. Namanya Hanum Deandra Azzahra. Tapi saat berdiri di depan mik, Hanum tidak tampak seperti bocah sembilan tahun.
Jumat (13/3) lalu, masjid di SD Insan Amanah Malang mendadak hening. Hanum sedang beraksi. Dia menjadi dai cilik dalam acara Pentasharufan Zakat, Infaq, dan Sedekah.
Bicaranya lugas. Tidak ada demam panggung. Ayat suci Al-Baqarah mengalir fasih dari bibirnya. Hadis Nabi pun dilahapnya dengan lancar.
”Kenapa kita harus berpuasa?” tanya Hanum retoris.
Lalu dia menjawabnya sendiri dengan nada mantap: “Untuk membentuk pribadi yang lebih baik dan bertakwa.”
Para hadirin terdiam. Termasuk Pengawas PAI Kota Malang, H. Muniron. Juga para pimpinan sekolah. Mereka seperti sedang “disidang” oleh kebenaran sederhana dari mulut seorang anak kecil.
Bagi Hanum, Ramadan bukan soal menahan lapar belaka. Itu soal rasa. Soal empati. Dia menyebut Ramadan sebagai “sekolah”. Tempat melatih kepedulian.
”Orang yang cerdas adalah orang yang suka introspeksi diri,” tambahnya.
Kalimat ini telak. Menusuk sanubari orang dewasa yang hadir di sana.
Itulah warna unik di SD dan SMP Insan Amanah. Mereka tidak hanya bicara teori di kelas. Mereka praktik. Hari itu, ada 110 siswa SD dari lingkungan Lowokwaru yang hadir. Juga puluhan siswa SMP undangan dari luar Insan Amanah.
Mereka pulang dengan wajah sumringah. Ada santunan yang dibawa.
Dr. Suhardini Nurhayati, Kepala SD Insan Amanah, tampak terharu. Dia biasa disapa Bu Dini. Baginya, acara ini adalah laboratorium kemanusiaan.
”Berbagi adalah kunci kekerabatan,” ujar Bu Dini. Kalimatnya pendek tapi dalam.
Dia ingin murid-muridnya belajar satu hal: hari ini mereka memberi, besok lusa mereka harus tetap menjadi pribadi yang tangan di atas.
Pun kepada siswa penerima santunan. Hari ini mereka menerima. Kelak mereka yang akan memberi.
Pagi itu, zakat bukan lagi sekadar kewajiban agama. Ia menjadi jembatan persaudaraan. Lewat suara Hanum dan ketulusan para guru dan orang tua siswa Insan Amanah, pesan itu sampai ke hati.
Setiap anak punya potensi. Asalkan tekadnya kuat. Seperti Hanum yang percaya diri, atau para penerima santunan yang tetap memiliki mimpi besar. (*)



