IDEA JATIM, MALANG – Astra memanggil. Lewat Astratech. Selasa (3/3) lalu, suasana di SMK PGRI 3 Malang beda. Ada greget. Ada harapan. Tim rekrutmen Politeknik Astra (Astratech) datang. Mereka mencari talenta. Mencari anak-anak muda Jawa Timur yang punya otak encer dan mental baja.
Ini program serius. Kolaborasi besar. Antara Astratech dan United Tractors (UT).
”Ini sinergi keluarga besar Astra,” ujar Ego Bayu Armando, perwakilan UT Cabang Surabaya.
Ego sibuk. Dia harus memantau proses seleksi. Dari 90-an sekolah binaan UT di Jawa Timur, Malang dipilih jadi pusatnya. Titik fokusnya ada tiga sekolah. Salah satunya, ya SMK PGRI 3 Malang itu.
Skemanya menarik. Ada tiga jalur. Mau beasiswa penuh? Bisa. Asal berprestasi dan lolos kriteria ekonomi. Mau jalur reguler? Silakan. Mandiri juga boleh. Yang penting: kualitas.
Syaratnya tidak njelimet. Siswa kelas 12 boleh. Alumni juga boleh. Tesnya yang ketat. Ada akademik. Ada psikotes. Ada wawancara.
”Tidak ada kuota per sekolah. Sistemnya ranking nasional. Siapa yang terbaik, dia yang masuk,” tegas Ego.
Kepala SMK PGRI 3 Malang, M. Lukman Hakim, tersenyum bangga. Matanya berbinar. Dia tahu, ini kesempatan langka. Tidak semua sekolah didatangi langsung oleh tim rekrutmen Astra.
”Ini potensi besar. Anak-anak harus ambil peluang ini,” kata Lukman.
Kenapa Malang? Kenapa sekolah ini?
Jawabannya: rekam jejak. Alumni SMK PGRI 3 di Astratech bukan kaleng-kaleng. Ada yang sampai juara di Asian Skills. Ada yang tembus WorldSkills Competition. Prestasi itulah yang jadi magnet. Industri jadi percaya. Astra jadi jatuh cinta.
Tahun ini, 100 siswa terpilih ikut seleksi. Mereka sudah disaring secara internal. Hanya yang punya nilai akademik bagus dan prestasi regional yang boleh maju.
Targetnya jelas. Kuliah tiga tahun. Beasiswa penuh bagi yang lolos prestasi. Ujungnya? Penempatan kerja di ekosistem industri Astra yang mapan.
Lukman ingin anak didiknya melesat. Menjadi orang sukses. Menjadi maslahat bagi masyarakat.
”Kami ingin lulusan kami mencapai bintang. Setinggi-tingginya,” pungkasnya.
Sebuah mimpi yang sedang dirajut dari ruang kelas di Malang. (*)



