IDEA JATIM, TAIWAN – Industri semikonduktor dunia menuntut presisi mutlak tanpa celah kesalahan. Di tengah persaingan teknologi yang kaku ini, Adrian Mutu Hidayat, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil mengambil peran krusial. Melalui Formosa Talent Internship Program, ia dipercaya meracik algoritma machine learning untuk memprediksi cacat produksi di salah satu sektor paling rahasia dan bernilai tinggi di dunia.
Keterlibatan Adrian di National Formosa University (NFU) Taiwan membuktikan bahwa talenta muda Indonesia mampu bersaing di level elit. Sejak Februari 2026, ia terjun langsung di Lean Management Laboratory, sebuah pusat riset yang berfokus pada efisiensi industri manufaktur berbasis data.
Bagi Adrian, atmosfer akademik di Taiwan memberikan kejutan besar karena sangat terintegrasi dengan isu global. “Di sini hampir semua hal berbasis riset dan data. Bahkan, isu geopolitik dan kebijakan ekonomi internasional dibahas dalam konteks teknis industri,” ungkap Adrian (10/4).
Yang membuat pencapaian ini istimewa adalah fokus risetnya pada defect prediction. Adrian bertugas mengoptimalkan penggunaan bahan baku semikonduktor yang sangat mahal dengan menekan angka kegagalan produksi. Proyek ini tidak main-main karena terhubung langsung dengan raksasa industri dunia yang menjunjung tinggi kerahasiaan data.
“Dulu saya belum sampai ke tahap ini. Sekarang saya belajar bagaimana melakukan sebuah fokus riset yang jauh lebih spesifik dan aplikatif,” jelasnya.
Adaptasi menjadi tantangan utama bagi Adrian. Ia harus menyesuaikan diri dengan standar akademik Taiwan yang menuntut ketelitian tinggi, kedisiplinan, dan pola pikir ilmiah yang tajam. Namun, hambatan tersebut berhasil diatasi berkat dukungan penuh dari kampus asalnya.
Pihak UMM memberikan kemudahan administratif serta fleksibilitas konversi SKS melalui program MBKI, sehingga Adrian dapat fokus sepenuhnya pada riset di Taiwan tanpa khawatir akan hambatan studi di tanah air.
Prestasi gemilang ini membuka “karpet merah” bagi masa depan Adrian. Ia telah mengantongi kesempatan fast track untuk melanjutkan jenjang Magister (S2) di NFU dengan durasi studi yang lebih singkat. Ini menjadi modal utama baginya untuk menembus pasar kerja global pasca kelulusan.
Di akhir ceritanya, Adrian memberikan pesan motivasi bagi sesama mahasiswa agar berani keluar dari zona nyaman. “Kalau ingin merasakan dunia kerja global, program internasional seperti ini sangat layak dicoba. Pengalamannya benar-benar berbeda dan membuka jalan yang sangat lebar,” pungkasnya.
Keberhasilan Adrian menjadi bukti nyata bahwa UMM sukses mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga siap menjadi pionir dalam ekosistem riset dan industri global yang progresif. (*)




