IDEA JATIM, BATU – Di tengah gempuran konten visual media sosial yang serba cepat dan sekilas, komunitas seni Simpullapan mencoba menarik rem darurat. Melalui pameran kolektif bertajuk “Setengah Rindu” di Galeri Raos Kota Batu, delapan seniman ini mengajak publik untuk kembali merawat ritme pelan dalam memaknai sebuah karya dan kehidupan.

Pameran ini bukan sekadar ajang nostalgia manis, melainkan sebuah kerja kreatif untuk mengolah jarak, rutinitas, dan kegelisahan menjadi bahasa rupa yang menuntut perhatian penuh dari penontonnya.
Dwi Christanto, salah satu anggota komunitas Simpullapan sekaligus peserta pameran, mengungkapkan bahwa “Setengah Rindu” adalah sebuah pernyataan sikap terhadap fenomena zaman.
“Hari ini, emosi sering kali diperas hanya untuk menjadi konten. Pengalaman estetis dipercepat menjadi konsumsi yang instan. Melalui pameran ini, kami ingin menawarkan risiko: jika ini hanya dibaca sebagai romantisasi atau gaya-gayaan, maka yang tertinggal hanya permukaan. Padahal yang kami pertaruhkan di sini adalah kedalaman perhatian kita sendiri,” ujar Dwi.
Delapan Spektrum Rindu dalam pameran ini, rindu dimanifestasikan secara beragam oleh delapan seniman. Ada yang melihat rindu sebagai arsip kehilangan, kritik sosial, hingga etika menahan diri.
Dwi Christanto sendiri menyajikan karya yang menyentak kesadaran urban. Ia menggunakan kolase ikon, simbol kekuasaan, ideologi, dan tipografi yang menyerap energi kota. Karyanya berfungsi sebagai “pengusik” bagi mereka yang sering melewati pesan-pesan penting di ruang publik hanya dengan tatapan sekilas.
“Saya merindukan suara-suara yang dulu lantang dan simbol-simbol yang kini hanya menjadi latar belakang yang terabaikan. Saya ingin pesan yang tadinya ‘sekilas’ itu kini menjadi tatapan yang tidak bisa diburu-buru,” tambah Dwi.
Selain Dwi, pameran ini diperkuat oleh tujuh seniman lainnya dengan karakter yang kontras namun saling melengkapi:
Fadjar Djunaedi: Menghadirkan rindu sebagai struktur batin dan poros intim.
Ahmad Saihu: Merawat ingatan melalui rindu yang bekerja sebagai arsip kehilangan.
Jumali Kerto: Menggugat dominasi gawai melalui rindu pada ketubuhan dan permainan masa kecil.
Nadia Vina Maharani: Menjadi jembatan antara budaya pop dan tradisi bagi generasinya.
Pensil Bundu (Eko Alif Vernanda): Mengkritik hilangnya rasa kemanusiaan melalui personifikasi insting hewan.
Faal Jagra (Rudy Hartono): Menampilkan teks yang padat sebagai bentuk perlawanan terhadap terpecahnya fokus manusia modern.
Niko Arya Surya Nagra: Menutup spektrum dengan kejujuran garis komikal yang memadukan kepolosan dan kepahitan.
Ajakan untuk “Melambat”
Filosofi utama dari “Setengah Rindu” adalah ajakan untuk melambat. Sejalan dengan pemikiran John Dewey bahwa seni hidup karena ia mengubah cara manusia merasakan, pameran ini menuntut penonton untuk tidak terburu-buru berpindah dari satu karya ke karya lain.
“Melambat adalah cara paling sunyi untuk menghormati sesuatu yang pernah berarti. Kami meminta pengunjung untuk menahan diri, membaca ulang detail yang nyaris terlewat, dan benar-benar hadir di depan karya,” tutup Dwi Christanto.
Pameran Simpullapan ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat urban bahwa di balik riuhnya dunia digital, ada kedalaman makna yang hanya bisa ditemukan jika kita bersedia berhenti sejenak. (*)




