IDEA JATIM, MOJOKERTO, – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Mojokerto kembali melangsungkan diskusi daring bertajuk “Ngabuburit Pengawasan Jilid 4” pada Rabu (04/03/2026).
Diskusi kali ini mengusung tema “Mulai dari Manusianya”. Tema tersebut menyoroti pentingnya integritas sumber daya manusia (SDM) sebagai pilar utama terciptanya Pemilu dan Pilkada yang berkualitas.
Saat menyampaikan sambutan, Ketua Bawaslu Kabupaten Mojokerto, Dody Faizal menekankan bahwa demokrasi yang berkualitas sangat ditentukan oleh kapasitas dan integritas SDM yang terlibat.
“Sebagai penyelenggara pemilu, Bawaslu harus
senantiasa bersikap netral, profesional, dan berintegritas dalam menjalankan tugas
pengawasan. Tema kali ini sangat relevan, yakni
mengenai korelasi antara demokrasi dan sumber daya manusia,” ujarnya.
Sementara itu, pemaparan materi pertama disampaikan oleh Komisioner KPU Kabupaten Mojokerto, Muslim Bukhori. Ia mengatakan bahwa untuk menciptakan suasana Pemilu dan Pilkada yang bermartabat, terdapat beberapa hal
penting yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya.
Pertama, aspek regulasi atau aturan yang menjadi landasan utama. Kedua, penyelenggara pemilu yang terdiri dari Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilu, dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu. Ketiga, peserta Pemilu atau Pilkada yang berkompetisi secara sah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Keempat, pemilih atau masyarakat yang memiliki hak pilih sebagaimana diatur dalam undang-undang.
”Integritas sendiri mencakup kejujuran dan keadilan, serta profesionalitas yang mengutamakan kepentingan umum, wajib dipegang teguh oleh seluruh penyelenggara,” ujar Muslim.
Muslim juga mencatat keberhasilan Kabupaten Mojokerto memutus “rapor merah” pada Pilkada 2020 sebagai motivasi untuk terus meningkatkan capaian.
Sektor pendidikan juga mengambil peran strategis. Kepala Cabang Dinas Kependidikan Wilayah Mojokerto, Pinky Hidayati menjelaskan tentang pentingnya edukasi bagi pemilih pemula (new voters) melalui penanaman karakter sejak bangku sekolah.
”Kami mengintegrasikan nilai demokrasi dalam mata pelajaran dan mengkampanyekan sekolah anti-hoaks serta anti-politik uang,” jelasnya.
“Kami juga berharap dari upaya tersebut terbentuk budaya integritas sejak dini, meningkatnya kesadaran demokrasi di kalangan generasi muda, serta terwujudnya pemilu dan pilkada yang jujur, adil, dan bermartabat,” tandas Pinky.
Anggota Bawaslu Kabupaten Mojokerto, Syifa’uddin, memaparkan tantangan nyata di lapangan, mulai dari tekanan politik hingga potensi konflik kepentingan. Ia menegaskan bahwa sistem yang kuat tidak akan berarti tanpa manusia yang bermoral.
”Individu pengawas harus berani menegakkan aturan dan bertanggung jawab. Kami di Bawaslu bahkan membuka layanan laporan 24 jam sebagai wujud kesiapsiagaan,” tegas Syifa’uddin. (*)




