IDEA JATIM, MALANG – Suasana syahdu dan penuh berkah mewarnai peresmian Musala Al-Muwanah di lingkungan MTs Ma’arif NU Kota Malang, Sabtu (17/1).
Acara tersebut bukan sekadar seremoni formal, melainkan simbol nyata sinergi antara kepedulian masyarakat dan visi pendidikan madrasah.
Musala yang diresmikan langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang, Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag., ini merupakan wakaf dari Keluarga H. Abd Ghofur dan Hj. S. Muawanah.
Kehadiran para tokoh NU, pengurus LP Ma’arif, serta keluarga pewakaf menandakan arti penting rumah ibadah ini bagi komunitas.
Dalam sambutannya, Munir yang juga perwakilan keluarga pewakaf menyampaikan harapan besar agar musala ini menjadi motor penggerak spiritualitas dan penunjang kualitas pendidikan di madrasah. Ia pun secara simbolis menyerahkan kunci pengelolaan kepada pihak madrasah.
Prof. Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D., Ketua Komite MTs Ma’arif NU Kota Malang, menyambut hangat wakaf tersebut. Prof. Junaidi menekankan bahwa Al-Muawanah akan berfungsi ganda.
“Di sini bukan hanya untuk salat, tetapi juga menjadi ruang sentral pembinaan karakter dan akhlak mulia siswa,” ujarnya.
Prof. Junaidi juga menyampaikan, dengan diresmikannya Musala Al-Muawanah, MTs Ma’arif NU Kota Malang kini memiliki ruang baru yang lebih dari sekadar tempat ibadah.
Menurutnya, Musala Al-Muawanah merupakan
ruang pembelajaran hidup, penguatan ukhuwah, dan penanaman nilai-nilai religius yang diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas akademik, tetapi juga kuat spiritual dan berakhlak mulia.
“Ini merupakan sebuah warisan bermakna yang akan terus memberi manfaat bagi siswa dan masyarakat sekitar,” imbuhnya.
Sementara itu, Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag., dalam sambutanya mengajak seluruh hadirin merenungkan keutamaan amal jariyah.
“Niat ikhlas para pewakaf telah menanamkan pohon pahala yang akan terus berbuah, mengalirkan kebaikan hingga yaumil qiyamah. Semoga ini menjadi investasi akhirat yang tak terputus,” ujarnya, mengingatkan hadits tentang keabadian pahala wakaf.
Puncak acara diisi dengan mau‘idhah hasanah dari Dr. H. Sutaman, M.A., yang mengajak semua pihak meneladani ketulusan dan kedermawanan para pewakaf.
Ia berpesan agar musala ini hidup dengan aktivitas, tidak sekadar untuk salat wajib, tetapi juga menjadi jantung kegiatan keagamaan dan pendidikan karakter. (*)




