SMA merupakan jenjang pendidikan yang sering dianggap sebagai pembuka jalan kesuksesan. Setiap tahun, Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) yang terdiri dari Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) selalu menjadi momen dan topik hangat yang diperbincangkan di lingkungan pendidikan. Kebanyakan orang memandang kedua jalur ini sebagai “gerbang utama” menuju perguruan tinggi negeri impian. Berdasarkan data, persepsi tentang SNPMB sebagai jalur utama menuju perguruan tinggi negeri ini tecermin dari tingginya angka partisipasi dan penerimaan mahasiswa baru tahun 2025. Pada jalur SNBP, ada sekitar 776 ribu siswa yang mendaftar untuk memperebutkan sekitar 180 ribu kursi. Sementara itu, jalur SNBT 2025, jumlah peserta mencapai sekitar 860 ribu orang, dengan lebih dari 250 ribu peserta yang diterima. Melalui angka tersebut, dapat diketahui bahwa dua jalur seleksi tersebut, ratusan ribu lulusan SMA menaruh harapan besar.
Di balik fenomena angka passing grade, peringkat, statistik daya tampung, dan lain sebagainya, terdapat hal menarik yang mengajarkan satu hal penting: hasil seleksi bukan semata tentang siapa yang paling pintar, melainkan tentang siapa yang paling berusaha, beruntung, dan mampu menghargai proses.
SNPMB ini terdiri atas jalur seleksi yang menuntut pemahaman menyeluruh. Pemahaman tentang karakteristik setiap jalur, peluang, dan strategi. Menyamaratakan semua jalur dan menilai keberhasilan hanya dari satu indikator merupakan kesalahan besar yang sering terjadi. Padahal, seleksi ini dirancang untuk memberi ruang bagi keberagaman potensi peserta didik. Setiap peserta didik harus memiliki kesiapan dengan memahami kekuatan dan kelemahan diri, minat jurusan, serta kesiapan menghadapi persaingan. Dengan demikian, dukungan dari berbagai pihak, terutama pihak sekolah dan orang tua sangat penting.
Sekolah tidak boleh hanya menjadi fasilitator, tetapi juga harus menjadi penenang di tengah kecemasan peserta didik dan orang tua. Sekolah harus menjadi ruang yang aman, bukan ruang penuh tekanan. Melalui pendampingan yang ekstra dan komunikasi yang jujur menjadi tolok ukur agar peserta didik memahami proses seleksi secara utuh. Dengan memiliki pemahaman yang tepat, peserta didik dan orang tua dapat menempatkan harapan secara realistis tanpa perlu mengorbakan kesehatan mental dan kepercayaan diri peserta didik.
Selain pentingnya pemahaman yang berkaitan dengan persiapan diri, peserta didik dan orang tua perlu memahami bahwa SNBP tidak hanya berdasarkan nilai rapor, tetapi juga mempertimbangkan indeks sekolah, konsistensi prestasi, serta rekam jejak secara menyeluruh. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa yang memiliki nilai tidak sempurna sekali pun tetap memiliki peluang, sedangkan siswa yang memilik nilai tinggi pun belum tentu lolos. Dalam hal ini, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem persiapan yang sehat. Data akademik, pendampingan pemilihan jurusan, serta informasi akurat tentang seleksi ini perlu disampaikan secara transparan. Dengan demikian, proses seleksi ini menunjukkan bahwa SNBP bukanlah jalur yang aman tanpa usaha, melainkan jalur yang menuntut usaha keras sejak awal berada di bangku SMA. Kedisiplinan, konsistensi belajar, dan sikap tanggung jawab menjadi bagian terpenting dari proses mendapatkan kesempatan di SNBP.
Selain SNBP, ada pula SNBT. Hal menarik lain yang muncul dalam seleksi masuk perguruan tinggi adalah SNBT bukan sekadar tes kecerdasan, melainkan tes kesiapan berpikir. Peserta dengan nilai akademik tinggi justru gugur karena kurang terlatih dalam manajemen waktu, ketahanan mental, dan strategi mengerjakan soal. Sebaliknya, peserta yang dianggap biasa-biasa saja, tetapi mampu lolos karena persiapan yang matang dan mental yang kuat. Lewat hal ini, kita belajar bahwa usaha yang dilakukan secara konsisten, terstruktur, dan berkelanjutan sering kali lebih menentukan daripada bakat semata.
Perlu disadari bahwa sekeras apapun usaha seseorang, faktor keberuntungan tetap hadir. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak mengusahakan segala sesuatu dengan baik. Ada kalanya keberuntungan hadir dalam bentuk soal yang sesuai dengan kemampuan, kondisi fisik dan mental yang prima saat ujian, hingga ketersediaan daya tampung jurusan. Tentang keberuntungan ini bukanlah yang bisa dikendalikan, tetapi seringkali berpihak pada mereka yang sudah siap. Namun, dalam konteks SNBP dan SNBT, keberuntungan bukan pengganti usaha, melainkan pelengkapnya.
Proses seleksi yang berbanding lurus dengan usaha dan doa ini tentunya berkaitan dengan peran sekolah dan orang tua. Dalam proses ini, guru memiliki peran penting, selain menjadi pengajar materi, guru juga pembentuk karakter dan kepercayaan diri. Dukungan guru melalui motivasi, umpan balik, serta empati lebih berpengaruh daripada sekadar latihan soal. Pentingnya peran guru menjaga keseimbangan antara target dalam meraih cita-cita dan kemanusiaan dalam menjaga setiap peserta didik tetap tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan memiliki daya juang yang tinggi. Perihal usaha tetap harus dimaksimalkan, urusan hasil harus dipasrahkan.
Penting bagi orang tua dan pihak sekolah pahami, SNBP dan SNBT bukanlah satu-satunya penentu masa depan anak. Memberikan tekanan berlebihan justru akan melukai kepercayaan diri dan kesehatan mental anak. Orang tua dan guru memiliki peran sebagai pendamping, bukan penentu takdir. Bersikap suportif dengan memberikan dukungan emosional, mengapresaisi setiap usaha anak, dan menerima hasil dengan lapang adalah bentuk cinta yang paling dibutuhkan.
Perlu diingat pula bagi pejuang SNBP dan SNBT, nilai diri tidak ditentukan oleh satu pengumuman. Apabila mendapat keberhasilan, bersyukurlah tanpa jumawa dan merendahkan orang lain. Jika belum, masih banyak seribu jalan untuk meraihnya. Sering kali yang berliku justru membawa pelajaran paling berharga. Usaha adalah suatu kewajiban, keberuntungan adalah bonus, dan proses adalah anugerah yang harus terus dinikmati. Belajar menghargai proses akan menjadikan kita tidak mudah patah oleh kegagalan dan terlena oleh keberhasilan. Pendidikan bukan ajang perlombaan siapa yang paling cepat sampai, melainkan yang paling siap menjalani kehidupan.
Pada akhirnya, SNPMB bukan hanya menyaring siapa yang terbaik, melainkan memberi kesempatan yang adil bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan potensi dan minat. Seleksi ini adalah refleksi bahwa pendidikan terus bekerja sama, bukan perjuangan individu semata. SNPMB merupakan salah satu fase, bukan penentu hidup seseorang. Ketika semua pihak mampu melihatnya sebagai proses bersama, seleksi ini akan menjadi pengalaman yang bermakna, bukan penuh tekanan yang menakutkan. Jalani proses ini dengan penuh kesadaran dan keteguhan hati. Hasil seleksi hanyalah satu titik dalam perjalanan panjang. Sementara itu, sikap dewasa dalam menerima proses dan terus bertumbuh adalah penentu arah masa depan.
Identitas
Nafisatul Mursidah, S.Pd.
Satuan
SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School
Jabatan
Guru Bahasa Indonesia




