IDEA JATIM, MALANG – Siswa-siswi hebat SMP Insan Amanah tak berhenti mengukir prestasi. Beberapa waktu lalu mereka meraih prestasi yang mengagumkan. Juara 3 Lomba Inovasi Teknologi (INOTEK) Kota Malang Bidang Nondigital. Prestasi ini diraih dalam kategori umum. Ada mahasiswa, guru dan sebagainya.
Di tengah kompetisi yang berat itu, tim siswa SMP Insan Amanah berhasil menjadi terbaik ketiga. “Alhamdulillah meskipun bersaing dengan yang lebih senior anak-anak tetap meraih juara. Tentu ini sebuah kebanggaan,” ucap Kepala SMP Insan Amanah Sri Endah Pujiningrum, S.Si.
Endah menjelaskan, SMP Insan Amanah selalu melihat peluang untuk mengantarkan siswa berprestasi. Apapun potensi siswa selalu mendapat perhatian maksimal. Akademik maupun kreativitas.
Termasuk mereka yang berhasil meraih juara lomba INOTEK. Mereka memiliki kemampuan menganalisa permasalahan sosial. Selain itu memberikan solusi terbaik.
Seperti permasalahan yang ada di dunia digital saat ini. Tidak sedikit yang menyebabkan orang frustasi karena kejahatan yang ditimbulkan. Penipuan, judi online, bullying dan bentuk kejahatan lainnya.
“Kami bangga anak-anak mampu membaca fenomena sosial di dunia maya. Itu artinya mereka care pada teknologi. Serta mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang ditimbulkan,” ungkapnya.
Di lomba ini tim siswa SMP Insan Amanah berhasil membuat karya inovasi. Karya yang menginspirasi. Sebuah karya yang berjudul Cyber Monkey – Board Game Edukatif Keamanan Siber dan Etika Digital.
Karya ini diciptakan oleh empat siswa SMP Insan Amanah. Mereka adalah Qonitah, Zahwan Aby Maulana, Khanza Letisha Ramadhani dan Dean Azhallah Prasetyoputra. Karya mereka bermanfaat untuk mengedukasi masyarakat dalam berselancar di dunia internet. Sehingga tidak mudah terjebak dalam konten negatif.
Qonitah menjelaskan, media atau projek yang dibikin berupa board game.
Cara mainnya seperti ular tangga. Hanya saja memakai kartu, bukan dadu. Dimainkan oleh empat orang. Bagi yang bisa menjawab pertanyaan melangkah maju. Sebaliknya yang tidak bisa menjawab akan mundur.
“Di permainan itu ada saran agar kita tidak mudah terjebak dalam kejahatan digital. Seperti judol, bullying, penipuan atau konten kejahatan lainnya. Jadi tujuan permainan ini untuk mengedukasi,” katanya.
Sebelum mendapatkan ide tersebut, timnya lebih dulu melakukan observasi. Mencari kasus-kasus kejahatan di dunia digital atau internet. Sehingga muncul ide untuk membuat board game. “Alhamdulillah ide ini didukung oleh guru-guru kami. Kami membuatnya selama tiga minggu,” ujar Qonitah.
Menurutnya, tantangan terberat ada pada menentukan ide. Lalu ketersediaan waktu yang terbatas. Timnya harus berpacu dengan waktu. Bahkan video presentasi pun mereka bikin sehari sebelumnya.
“Ya sempat panik juga. Tapi kami berusaha untuk tetap tenang dan optimis. Dan kami tetap bersemangat meskipun lawannya orang dewasa. Kami peserta termuda di lomba tersebut. Tapi kami tetap percaya diri tampil presentasi di depan juri,” ucapnya penuh bangga.
Selain Qonitah dkk , juga ada Adelia Misha Arsyila. Dia berprestasi di bidang kooding. Berhasil membuat aneka game. Yaitu Mocchi Mitten: Meowsquito War , Mocchi Mitten: Bubble Revenge , Mocchi Mitten: Eat frenzy. Game-game ini bisa diakses di mocchimitten.com.
Berkat karyanya itu, dia sukses berprestasi di event Global Game Jam. Sebuah event yang berisi tantangan membuat game dalam 48 Jam. “Saya juga mengikuti event IGDX (Indonesia Game Developer eXchange) pada bulan Oktober 2025. Saya bersyukur dengan pencapaian ini, banyak pengalaman yang saya dapatkan,” ucap siswa kelas VII ini. (*)





