IDEA JATIM, MALANG – Panggung Simfoni Khazanah Bangsa (SKB) benar-benar menjadi wadah ekspresi siswa-siswi berbakat Sekolah Sabilillah. Mulai TK Islam Sabilillah Malang 1, TK Islam Sabilillah Malang 2, SD Islam Sabilillah Malang 1, SD Islam Sabilillah Malang 2, SMP Islam Sabilillah Malang dan SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren.
Di balik gebyar acara itu, guru Sekolah Sabilillah ingin menguatkan karakter peserta didiknya. Baik yang tampil maupun yang tidak. Apapun potensi dan bakat yang mereka miliki. Akademik, seni, olahraga maupun yang lain.
Hal itu ditegaskan Direktur LPI Sabilillah Malang, Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Delapan Karakter Sabilillah Penuh Cinta. Itu fokusnya. Sekolah Sabilillah memiliki program tersebut. Dinamakan 360 derajat cinta.
Yaitu, Cinta Allah & Rasul, Cinta Orang Tua & Guru, Cinta Diri Sendiri, Cinta Sesama, Cinta Alam Sekitar, Cinta Bangsa & Negara, Cinta Ilmu Pengetahuan & Teknologi, dan Cinta Keunggulan.
“Kalau sudah cinta, maka semuanya akan beres. Kalau anak cinta pada Allah dan Rasul, maka ibadahnya akan kuat. Kalau sudah cinta sesama, maka anak empati dan peduli pada orang lain. Kalau cinta keunggulan, maka dia pasti akan belajar dengan rajin. Kalau cinta lingkungan anak akan menjaga kebersihan, demikian seterusnya,” kata Prof Ibrahim.
Wakil Rektor 1 Universitas Negeri Malang ini mengungkapkan, Pagelaran Orkestra Simfoni Khazanah Bangsa adalah wadah ekspresi. Juga wadah pembelajaran. Menguatkan keterampilan dan soft skill siswa. Melatih mereka mampu bekerjasama.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengembangkan bakat, minat dan soft skill anak-anak. Bidang bakat dikembangkan dengan pentas seni. Sedangkan softskillnya dengan kemampuan bekerjasama, disiplin, berani tampil dan bertanggung jawab,” terang pria asal Sumenep ini.
Sebab menurutnya, di dalam Orkestra terdapat bermacam instrumen musik. Semuanya dimainkan bersama untuk menghasilkan alunan musik yang harmoni. Maka dibutuhkan kekompakan, kesetaraan, rasa dan saling menghargai. “Kalau tidak maka musik yang dihasilkan akan rancu dan tidak enak didengar,” kata dia.
Karena itu pendidikan karakter di kegiatan ini harus kuat. Supaya siswa mampu membangun kolabori dan komunikasi yang baik. “Kami betul-betul memperhatikan dan betul-betul mengembangkan pendidikan karakter. Terutama yang sudah dikemas dalam delapan karakter Sabilillah Penuh Cinta,” tandasnya. (*)




