Oleh: Muhammad Anwar (@anwarmbatu)
Sociopreneur, Penggerak Budaya, dan Ketua Kongres Kebudayaan Kota Batu 2025
IDEA JATIM - Kota Batu lahir pada tahun 2001, membawa sebuah janji suci: menjadi "Batu Kota Bernuansa Desa." Filosofi ini, bagi saya yang lahir dan besar di jantung mBatu, Desa Pesanggrahan, adalah ruh otonomi kita. Ia menuntut kita untuk membangun kota yang berpihak pada karakter agraris, konservasi alam, dan kearifan lokal, jauh dari mentalitas pembangunan serba beton yang tergesa-gesa. Meski di sisi lai, sebagai peradaban kami meyakini peradaban mBatu telah muncul sejak 1097 tahun yang lalu lewat penanda Prasasti Sangguran atau Prasasti Ngandat (kini desa Mojorejo, kecamatan Junrejo).
Dua dekade setelah otonomi, kami—komunitas dan penggiat lokal—terus berjuang untuk menjaga esensi tersebut. Saya selalu percaya bahwa "MBATU bukan kota kecil, BATU adalah DESA BESAR", sebuah seruan untuk meletakkan kedaulatan pada desa sebagai sumber daya strategis.