Pendidikan 03 Mei 2026 Oleh: Redaksi

Targetnya: Be Piously Great!

​IDEA JATIM, MALANG – ​Saya selalu tertarik dengan sekolah yang tidak sekadar “pabrik nilai”. Yang tidak hanya sibuk mengejar angka-angka di atas kertas, tapi lupa membangun manusia di balik angka itu.

​Di Malang, ada satu yang menarik perhatian: SD Anak Saleh.

​Sabtu kemarin (2/5), saya menyimak paparan M. Ichsan Wibowo, Wakil Kepala Sekolahnya. Orangnya masih muda, S.Hum—sarjana humaniora. Biasanya, orang humaniora punya rasa yang halus dalam melihat pendidikan.

Dan benar saja. Di tengah gempuran disrupsi teknologi yang bikin pusing itu, mereka justru kembali ke fondasi.

​Namanya: Panca Karakter.

​Bagi Ichsan, mendidik anak itu tidak boleh parsial. Harus utuh. Maka muncul lima pilar itu: Kesalehan Personal, Sosial, Kealamiahan, Kebangsaan, dan Kecendekiaan.

​Mungkin Anda berpikir: “Ah, itu kan jargon.”

​Tunggu dulu. Di sini menariknya. Mereka punya target yang bunyinya gagah: Be Piously Great. Hebat, tapi saleh. Saleh, tapi hebat.

​Ichsan menjelaskan dengan sangat bernas. Intinya ada di tiga kata: Zikir, Fikir, dan Fi’il.

​Selama ini, banyak sekolah terjebak hanya di “Fikir”. Otak diasah sampai tajam, tapi hati dibiarkan tumpul. Di Anak Saleh, “Zikir” (hubungan dengan Tuhan) harus nyambung ke “Fi’il” (perbuatan nyata).

​”Orang paling saleh itu yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujar Ichsan. Itu poin Kesalehan Sosial. Jadi, kesalehan itu tidak boleh berhenti di atas sajadah. Ia harus turun ke jalan, ke tetangga, ke masyarakat.

​Yang membuat saya tertegun adalah adanya Kesalehan Kealamiahan. Jarang sekolah memasukkan unsur alam sebagai bagian dari “iman”. Anak-anak diajari jadi ‘khalifah’. Mencintai tanaman bukan sekadar tugas biologi, tapi soal empati. Kalau sejak kecil sudah tidak tega merusak tanaman, besok kalau jadi pemimpin, mereka tidak akan tega merusak bumi demi nafsu serakah.

​Lalu, apakah mereka anti-teknologi?

​Tentu tidak. Mereka punya ASSA—Anak Saleh Smart Apps. Ini bukti bahwa nilai Qurani tidak bermusuhan dengan digitalisasi. Ini yang disebut Kesalehan Kecendekiaan. Pintar teknologi, tapi tetap punya jati diri bangsa yang kuat. Tidak “kebarat-baratan” secara buta, tidak pula kuper.

​Logika Ichsan sederhana namun menohok: Ilmu tanpa adab hanya melahirkan kepintaran yang merusak.
​Kita sudah melihat banyak contoh orang pintar yang akhirnya masuk penjara karena tidak punya adab. SD Anak Saleh tidak mau menambah daftar itu. Mereka ingin mencetak generasi emas yang sukses di dunia, tapi tetap mulia di akhirat.

​Sebuah ikhtiar yang berat, memang. Tapi di tangan pendidik yang berdedikasi, harapan itu rasanya bukan sekadar mimpi di siang bolong.

​Malang memang selalu punya cara untuk melahirkan oase pendidikan yang sejuk. Dan Panca Karakter ini adalah salah satu mata airnya. (*)