IDEA JATIM, MALANG – Merjosari bergemuruh pagi itu. Bukan karena langitnya mendung mau hujan, tapi karena ribuan siswa SMK PGRI 3 Malang—yang kondang dengan sebutan Skariga.
Mereka tidak sedang berdemo. Mereka sedang lari. Judulnya: Skariga Merjos Lari 112.
Bagi siswa kelas 12, ini bukan lari hura-hura. Ini adalah “sidang skripsi” fisik. Ujian akhir mata pelajaran olahraga. Kalau tidak sampai finis, bisa repot urusan kelulusan.
”Alumni Skariga harus punya paket lengkap. Skill oke, fisik juga harus prima,” ujar Riyandi Agung, Kabid Humas dan Marketing Skariga.
Riyandi benar. Dunia industri itu keras. Tidak butuh orang pintar yang gampang pingsan. Butuh orang tangguh yang tahan banting. Lima kilometer adalah cara Skariga menguji ketangguhan itu.
Ada 2.000 orang yang tumpah ruah di jalanan. Start dan finisnya di Plaza Merjosari. Tepat di depan kantor kelurahan. Mengapa di sana? Ada bumbu nostalgia. Lurah Merjosari ternyata mantan guru di Skariga. Klop.
Manajemen larinya pun naik kelas. Pakai timer digital. Ada gate megah. Ada semburan flare dan confetti. Persis lomba lari maraton profesional.
Hadiahnya lumayan. Uang tunai jutaan rupiah disiapkan. Tapi yang paling prestisius adalah medali. Hanya tersedia 112 keping. Mengapa 112?
Karena itu angka ulang tahun Kota Malang. Siapa cepat, dia dapat.
Tapi ada yang lebih penting dari sekadar medali: Tumbler.
Pagi itu, Skariga melakukan deklarasi penting. Gerakan Zero Plastic. Sebanyak 200 tumbler dibagikan kepada guru dan karyawan. Tidak boleh lagi ada botol plastik sekali pakai di sekolah.
Skariga ingin melahirkan teknisi yang tidak hanya jago mesin, tapi juga sayang bumi.
Tahun lalu mereka lari di Among Tani, Batu. Tahun ini di Merjosari, Kota Malang. Tahun depan?
”Kami geser ke Kabupaten Malang. Rencananya di wilayah Pujon. Temanya: Kebut Gunung,” kata Riyandi.
Saya membayangkan lari di tengah kabut Pujon yang dingin itu. Pasti seru. Pasti berat. Tapi itulah Skariga. Selalu punya cara agar siswanya tidak manja.
Lari terus Skariga. (*)
