Semangat Empati Matsanewa

IDEA JATIM, MALANG – SAYA tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi siswa di MTs Al-Amin. Atau di MA Nurul Huda. Keduanya di Malang.

​Kalau waktu sholat tiba, mereka harus antre. Bergantian. Ada yang sholat di dalam kelas. Ada yang di halaman. Mengapa? Sederhana: sekolah itu belum punya mushola.

​Hari Jumat lalu, gerombolan anak muda di Jalan Bandung—kampus MTsN 1 Kota Malang—merenungkan nasib temannya itu. Mereka tidak mau tinggal diam.

MTs Al-Ami MA Nurul Huda
Penampilan siswa meriahkan kegiatan bazar amal

Mereka membuat gerakan. Judulnya mentereng: Puncak Kokurikuler & Bazar Amal. Tema besarnya: Langkah Akhir Penuh Makna: Berbakti dan Mengabdi untuk Sesama.

​Hebatnya anak-anak zaman sekarang. Kalimatnya puitis, tapi gerakannya konkret.

​Sejak pukul delapan pagi, gerbang madrasah dibuka. Semua orang boleh masuk. Suasananya meriah sekali. Ada pentas seni, ada gelar karya, ada lomba paduan suara. Nuansanya sangat Indonesia.

​Tapi, magnit utamanya bukan itu. Magnitnya adalah 14 stan bazar makanan dan minuman.

​Saya tertarik dengan cara mereka mengelola stan ini. Ini bukan sekadar anak-anak jualan jajan pasar. Ini manajemen kolaborasi. Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Lailatul Chusniah—yang akrab dipanggil Bu Leli—menjelaskan rumusnya kepada saya.
​”Sistem penjualannya kami mix,” kata Bu Leli.

​Dari 14 stan itu, 13 stan diisi oleh ibu-ibu Paguyuban Orang Tua (PoCo). Tapi, mereka tidak sendirian. Di dalam stan, ibu-ibu itu “dikawinkan” dengan gabungan siswa kelas 7, 8, dan 9.

Mengapa? Biar ada transfer ilmu. Biar anak-anak belajar bagaimana melayani pembeli dan menghitung uang kembalian. Satu stan sisanya? Diberikan penuh kepada pengurus OSIS. Mandiri.
​Bu Leli ini tipe makelar kebaikan yang cerdas. Dia undang warga sekitar. Dia undang juga tetangga sebelah: MIN 1 dan MAN 2 Kota Malang.

​”Yang paling penting adalah ikut belanja! Jangan cuma nonton,” kata Bu Leli, lalu tertawa. Tentu, itu candaan yang bermakna perintah halus. Belanja di sini artinya menyumbang.

​Awalnya, panitia membuat aturan main yang adil: 50 persen keuntungan untuk modal, 50 persen sisanya didonasikan. Adil, bukan?

​Tapi, di sinilah letak kejutan kebudayaan kita. Jiwa gotong royong itu ternyata belum punah.

​Begitu tahu bahwa uangnya akan dipakai untuk membangun mushola di MTs Al-Amin—agar adik-adik di sana tidak sholat di halaman lagi—para wali murid langsung “pemberontakan”. Pemberontakan kebaikan.

​Banyak stan yang menolak aturan 50:50 itu. Mereka memutuskan: 100 persen keuntungan diserahkan ke panitia donasi! Bahkan, ada yang modal awalnya pun tidak mau diambil lagi. Semua disedekahkan. Habis-habisan.
​Belum cukup. Masih ada acara lelang karya seni siswa. Ini tiruan sukses tahun lalu. Lukisan dan kerajinan tangan hasil kreativitas siswa dipajang.

Lalu dilelang. Harganya? Bisa tembus ratusan ribu rupiah per karya. Begitu palu diketuk, uangnya langsung dimasukkan kotak kaca. Tanpa potongan sepeser pun.

​Hari itu, di MTsN 1 Kota Malang, pelajaran tertinggi justru tidak diajarkan di dalam kelas. Tidak ada rumus matematika atau hafalan sejarah di tengah hiruk-pikuk bazar.

​Hari itu, anak-anak diajarkan tentang satu hal yang mulai langka di dunia modern: empati yang dikonversi menjadi aksi nyata.

​Mereka sukses melahirkan lulusan yang kepalanya pintar, tapi hatinya tetap bergetar melihat kesusahan tetangga.

​Saya angkat topi untuk Matsanewa! (*)

Berita Terkini

Polres Batu Minta Masyarakat Tenang, Pastikan Isu ‘Pocong Begal’ di Media Sosial Hoaks

IDEA JATIM, BATU – Dunia Media sosial dalam beberapa...

Universitas Ma Chung Raih Akreditasi Unggul LAMEMBA untuk Prodi International Business Management

IDEA JATIM, ​MALANG – Program Studi International Business Management...
spot_img
Berita Terkait