

IDEA JATIM, MALANG - Angkanya 21. Dalam bahasa Jawa: Selikur. Tapi di SD Anak Saleh, Malang, angka itu bukan sekadar urutan umur. Ia adalah doa: Selalu Peduli dan Bersyukur.
Sabtu lalu, suasana di Aula Filkom Universitas Brawijaya beda. Tidak ada ketegangan ujian. Yang ada adalah keguyuban para orang tua siswa. Mereka merayakan milad sekolah yang sudah masuk usia dewasa: 21 tahun.
Prof. Dr. Imron Arifin, Ketua Yayasan, berdiri di depan. Bicaranya dalam. Beliau tidak hanya bicara soal angka lulusan yang sudah ribuan. Beliau bicara soal Ziyadatul Khoir. Bertambahnya kebaikan.
"Visi kita itu sukses dunia akhirat," ujarnya. Singkat. Padat.
Tapi Prof. Imron tidak sedang ingin berbasa-basi. Beliau gelisah. Ada mendung di wajahnya saat bicara soal moral generasi sekarang. Soal bullying. Soal vandalisme. Dan yang paling menyesakkan: guru yang kini takut mendisiplinkan siswa karena bayang-bayang laporan polisi.