

IDEA JATIM, MALANG – Di koridor-koridor akademik yang sering kali terjebak dalam formalitas, Universitas Negeri Malang (UM) justru memilih jalan yang berbeda: mereka memilih untuk terus "bertanya". Hasilnya bukan sekadar deretan piagam, melainkan sebuah transformasi besar yang membawa kampus ini bertengger di puncak prestise dunia.
Prestasi terbaru UM di kancah internasional bukanlah sebuah kebetulan. Dari pengakuan AD Scientific Index yang menempatkan UM di posisi pertama bidang pendidikan secara nasional, hingga kepemimpinan di sektor multimedia dan kewirausahaan versi EduRank, semua ini adalah buah dari sebuah keberanian intelektual. Namun, bagi Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., angka-angka pemeringkatan itu hanyalah efek samping. Inti dari perjuangan ini adalah sebuah revolusi mental di dalam kampus.
"Tantangan terbesar kita justru adalah rasa nyaman dan kemapanan," tegas Prof. Hariyono. Kalimat ini menjadi jangkar baru bagi sivitas akademika UM. Di bawah kepemimpinannya, UM sedang menghancurkan dinding-dinding "menara gading" yang sering membuat akademisi merasa cukup dengan gelar. Kini, mesin penggerak ilmu pengetahuan di UM adalah dialog dan budaya kritis—sebuah keberanian untuk mempertanyakan status quo demi menemukan inovasi yang relevan bagi zaman.