

Sejarah manusia menunjukkan bahwa perang hampir selalu membawa kehancuran yang luas: kota-kota hancur, ekonomi lumpuh, dan masyarakat kehilangan rasa aman. Namun di balik kehancuran itu, ada satu hal yang menentukan apakah sebuah bangsa akan benar-benar runtuh atau mampu bangkit kembali. Pendidikan bukan sekadar aktivitas belajar di ruang kelas, tetapi fondasi keberlanjutan dalam suatu peradaban. Dalam situasi paling gelap sekalipun, pendidikan sering menjadi cahaya yang menuntun masyarakat menuju pemulihan.
Dalam konteks dunia hari ini, eskalasi geopolitik global semakin memperlihatkan ketegangan yang tidak bisa diabaikan. Konflik regional yang meluas, perlombaan senjata, hingga ketegangan antarnegara besar menimbulkan kekhawatiran bahwa stabilitas global tidak selalu terjamin. Laporan dari UNESCO menunjukkan bahwa konflik bersenjata masih menjadi salah satu faktor terbesar yang mengganggu akses pendidikan di berbagai negara. Bahkan sebelum perang besar terjadi, ketidakstabilan geopolitik sering kali memberikan dampak pada sistem pendidikan, anggaran dipindahkan ke sektor pertahanan, sekolah menjadi tidak aman, dan tenaga pendidik mengalami masa ketidakpastian.
Di tengah perubahan zaman, pendidikan belum dianggap penting, dan jarang diprioritaskan ketika dunia menghadapi krisis besar. Ketika ekonomi terguncang, anggaran pendidikan dipotong. Ketika konflik meningkat, sekolah menjadi bangunan yang paling mudah ditinggalkan. Padahal sejarah menunjukkan bahwa masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh kekuatan militernya, tetapi oleh bagaimana bangsa tersebut menjaga pendidikannya, bahkan di masa paling sulit. dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan meningkatnya ketegangan geopolitik. Konflik bersenjata terjadi di berbagai kawasan, dan dampaknya tidak hanya dirasakan oleh tentara atau pemerintah, tetapi juga oleh anak-anak dan sekolah. Dalam kondisi perang, pendidikan hampir selalu menjadi korban pertama.