

IDEA JATIM, MALANG - Bayangkan Anda sedang melintas di tengah hiruk-pikuk kota, lalu tiba-tiba dihadapkan pada sebuah baliho raksasa bertuliskan kalimat ekstrem "Aku Harus Mati". Bagi sebagian orang, kalimat ini mungkin sekadar strategi promosi film yang mengundang rasa penasaran. Namun, bagi kelompok rentan yang tengah berjuang dengan kesehatan mental, deretan kata tersebut layaknya belati yang bisa menjadi pemicu fatal. Menyoroti fenomena shock marketing jalanan yang kian meresahkan ini, pakar psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melayangkan teguran keras dan menyebutnya sebagai tindakan ceroboh yang membahayakan nyawa.
Dosen Psikologi UMM, May Lia Elfina, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menilai dari kacamata psikologi klinis bahwa pemasangan pesan ekstrem di ruang publik tidak bisa dibenarkan. Ia menekankan adanya perbedaan mendasar antara ruang publik dan bioskop. Bioskop adalah ruang privat di mana audiens secara sadar memilih untuk menonton, sementara ruang publik memaksa semua orang melihat tanpa bisa menghindar. Hal ini menciptakan paparan stimulus psikologis yang sama sekali tidak terkontrol.
May menjelaskan bahwa kalimat "Aku Harus Mati" yang bersifat absolut dan tanpa konteks bisa menjadi pemicu yang sangat berbahaya. Bagi individu dengan riwayat depresi, trauma, atau ide bunuh diri, pesan ini seolah memvalidasi pikiran negatif mereka. Apalagi, manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan negativity bias, di mana otak secara otomatis lebih peka menyerap informasi negatif.