Oase Mindora SD Islam Sabilillah Malang 2

IDEA JATIM, MALANG – ​TENTU Anda sudah tahu bagaimana wajah perpustakaan sekolah zaman dulu. Sepi. Kaku. Rak-rak kayu yang berdebu. Dan, seorang penjaga dengan tatapan galak, siap mendesis “Ssst!” setiap ada bangku bergeser.

​Lupakan itu.

​Di Malang, ada sekolah yang umurnya baru seumur jagung: dua tahun. Namanya SD Islam Sabilillah Malang 2. Tetapi, urusan isi kepala siswanya, mereka melompat jauh ke depan.

​Sekolah ini sukses menyulap ruang baca menjadi sesuatu yang hidup. Dinamakan: Perpustakaan Mindora.
​Singkatan dari Mind and Aura. Pikiran dan Jiwa. Visi besarnya pun gagah: melahirkan generasi yang memiliki “pikiran bercahaya”.

​Hari Sabtu lalu, saya mengulik cerita di balik Mindora. Ada sosok pustakawan muda di sana, namanya Andi Hartanto, S.S.I. Alumnus Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Di tangan Andi, perpustakaan dipaksa beradaptasi dengan zaman.
​”Fokus kami memang ke perpustakaan digital. Karakteristik Gen Alpha itu tidak bisa dilawan dengan cara lama,” kata Andi.

​Maka, begitu masuk ke Mindora, Anda tidak akan melihat tumpukan kertas usang. Yang berdiri di sana adalah smart screen interaktif. Berjejer pula teknologi multimedia seperti Smart TV.

Sistemnya sudah memakai SLiMS—Senayan Library Management System. Siswa tinggal memindai barcode untuk mencari buku.

​Rancang bangunnya pun serius. Bukan asal sekat ruangan. Ada peredam suara yang tenang, tata cahaya alami dari luar yang melimpah, dan tata letak yang pas. Semuanya sudah mengacu pada standar Undang-Undang Perpustakaan Nasional. Proper. Begitu istilah keren anak muda sekarang.

​Lalu, apa isi perpustakaannya? Ada sekitar 600 koleksi buku di sana. Dari kode klasifikasi 100 sampai 900. Tebak, mana yang paling laku?
​”Koleksi kode 700. Komik, kesenian, dan olahraga. Itu magnet utamanya,” ujar Andi, lalu tersenyum.

​Wajar. Namanya juga anak-anak. Tapi Andi punya siasat agar anak-anak tidak sekadar melihat gambar. Ada program namanya Book Venture Time. Ini wajib untuk anak kelas 1 dan 2. Waktunya pendek, cuma 15 menit saat istirahat pertama. Skemanya ketat: 10 menit membaca nyaring (Read Aloud) atau menulis puisi, 5 menit evaluasi.

​Hebatnya lagi, ada panggung bulanan: Storytelling. Anak-anak ditantang mendongeng dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

​Ini yang saya suka. Tujuannya bukan cuma melatih membaca, tapi membentuk mental. Melatih public speaking sejak sekolah dasar. Agar anak-anak Sabilillah besok kalau jadi tokoh bangsa, sudah tidak gagap lagi di depan kamera media.

​Biar makin semangat, sekolah membuat kompetisi mini dua bulanan. Memilih “Ananda Teraktif” dan “Kelas Teraktif”. Ada penghargaan bagi mereka yang paling rajin membaca.

​SD Islam Sabilillah Malang 2 tahu diri. Bergerak sendiri itu melelahkan. Maka mereka membuka pintu lebar-lebar untuk berkolaborasi. Sekarang, mereka sudah bergandengan tangan dengan Perpustakaan Kota Malang. Berikutnya, mereka sedang mematangkan kerja sama dengan almamater Andi, UIN Malang.

​Membaca adalah jendela dunia. Dan di SD Islam Sabilillah Malang 2, jendela itu kini berbentuk layar digital yang ramah anak. Sebuah standar baru telah dimulai dari sekolah dasar berusia dua tahun ini. (*)

Berita Terkini

Polres Batu Minta Masyarakat Tenang, Pastikan Isu ‘Pocong Begal’ di Media Sosial Hoaks

IDEA JATIM, BATU – Dunia Media sosial dalam beberapa...

Universitas Ma Chung Raih Akreditasi Unggul LAMEMBA untuk Prodi International Business Management

IDEA JATIM, ​MALANG – Program Studi International Business Management...
spot_img
Berita Terkait